Makan di Luar Jadi Faktor Meningkatnya Industri Kuliner

Salah satu faktor meningkatnya industri kuliner ialah kebiasaan makan di luar.
, Majalah Kartini | 08/12/2017 - 19:07

MajalahKartini.co.id – Indonesia merupakan pasar layanan makanan terbesar di antara semua negara ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara). Menurut laporan Global Analysis Report dari Agriculture and Agri-Food (Canada tahun 2016), nilai penjualan untuk pasar jasa makanan di Indonesia mencapai USD 36,8 Miliar di tahun 2014.

Penghasilan tahunan per rumah tangga tumbuh pada Compund Annual Growth Rate (CAGR)sebesar 10% dari tahun 2010 sampai 2015, mencapai USD 7.910,3 pada tahun 2015 yang membawa pertumbuhan belanja konsumen secara signifikan.

Sementara itu layanan makanan (restoran) di Indonesia tumbuh di CAGR sebesar 8,7% dari tahun 2010 hingga 2014, mencapai penjualan USD 36,8 miliar pada tahun 2014. Restoran layanan lengkap, cepat saji, kios jalanan merupakan 3 pendorong pertumbuhan teratas untuk pasar jasa makanan Indonesia.

Diperkirakan pertumbuhan volume outlet di industri jasa makanan akan melambat dari 2015 hingga 2019. Namun, nilai penjualan diperkirakan akan tumbuh lebih cepat pada periode yang sama. Perubahan di masa depan ini mungkin berasal dari peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dalam membatasi jumlah gerai jasa makanan.

Salah satu faktor meningkatnya industri kuliner ialah kebiasaan makan di luar. Karena semakin banyak ibu yang bekerja di sehingga tidak dapat memasak di rumah, keluarga di Indonesia sering makan di luar rumah. Namun, menurut Food Storyteller, Ade Putri Paramadita meski kebiasaan makan di luar itu marak, tapi tidak membuat para ibu jadi jarang masak juga.

“Video masak, acara cooking class dan lain-lain masih diminati. Ini artinya yang masak di rumah tetap banyak. Pernah ngobrol dengan Youtubers yang kontennya video masak, mereka juga bilang, bahwa request resep yang banyak adalah dari menu-menu jajanan kekinian. Artinya, bisa jadi begini, mereka memang banyak makan di luar. Tapi setelahnya tetap ingin juga memasak menu-menu tersebut di rumah,” jelas Ade.

Bagi konsumen yang berpenghasilan tinggi, makanan mungkin bukan faktor utama dalam memilih sebuah restoran karena mereka juga mempertimbangkan suasana dan kualitas. “Bagi kalangan menengah ke atas, makan di luar itu biasanya untuk icip resto baru. Ada yang memang karena penasaran, tapi ada juga yang untuk prestige. Pembuktian bahwa sudah cukup update dengan pernah makan di resto baru yang sedang hype,” ujar perempuan kelahiran 1979 ini.

Sedangkan, bagi konsumen middle class, makan di luar dianggap sebagai waktu yang khas untuk berkumpul dengan keluarga. Dengan demikian, terlepas dari merek, konsumen ini biasanya mengunjungi restoran di pusat perbelanjaan. “Makan di luar itu bisa jadi sarana berkumpul keluarga, sekaligus menyenangkan anggota keluarga. Mengingat kesibukan di kota besar, makan bareng keluarga di rumah seringkali sudah dilewatkan. Jadi makan di luar bisa jadi alasan untuk kumpul kembali.,” pungkasnya. (Foto: Instagram Ade Putri/

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: