Melihat Cahaya dalam Gelap “Mata Jiwa”

Film Mata Jiwa telah dinobarkan di lima kota di Indonesia. Seperti apa karya anak-anak Omah Dongeng Marwah ini?
, Majalah Kartini | 21/11/2017 - 19:07

MajalahKartini.co.id – Melihat cahaya dalam gelap mata Jiwa adalah ruh film pendek besutan sutradara muda Tsaqiva Kinasih Gusti (14 tahun).  Film berdurasi 30 menit ini diangkat dari cerpen “Bintang di Langit Jakarta”, karya Tsaqiva sendiri. Cerpen ini menjadi salah satu karya sastra remaja terbaik versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016. Cerpen ini akan diterbitkan Kemendikbud sebagai bacaan sastra di sekolah-sekolah SD/SMP/SMA di Indonesia.

Film yang diperankan secara apik oleh para pelajar SD dan SMP ini berkisah tentang anak bermata rabun berusia 7 tahun dari keluarga pemulung di Jakarta bernama Jiwa. Seperti orang tuli yang berusaha untuk bisa mendengar, juga seperti anak lumpuh yang berusaha ingin bisa berlari, seperti itulah mimpi Jiwa. Ia merindukan melihat cahaya di malam hari sejak ayahnya mendongengi ia tentang bintang kejora di atas langit Jakarta.

Untuk membahagiakan ayahnya, ia mengaku sudah bisa melihat kejora, meskipun tak pernah benar-benar bisa melihat bintang itu, kecuali kerlap kerlip lampu hotel di sebelah rumah bedengnya. Dari hotel itulah penggusuran justru dimulai, memaksa keluarga itu kembali pulang ke kampung halamannya. Film ini menggambarkan ketegaran Jiwa dalam menghadapi sulitnya hidup, bahkan lebih tegar dari ibunya sendiri.

Tsaqiva Kinasih Gusti menuturkan, ia tertarik tema film ini setelah melihat banyak fenomena yang terjadi di Indonesia. Masih banyak anak-anak yang tidak bisa mewujudkan harapannya karena keterbatasan yang mereka miliki. “Anak-anak mau bercita cita jadi fotografer, tapi karena tidak punya kamera, dan tidak mau berusaha, luruh lah haran itu. Padahal kalau berusaha, pasti bisa. Teknologi zaman sekarang sudah sangat memadai. Bisa belajar dari internet. Soal kamera, dengan hape pun bisa,” terang perempuan kelahiran 11 September 2003 ini .

Dengan dinobarkan film ini, menurut Ketua PKBM ODM Edy Supratno, memiliki beberapa arti dan tujuan. Pertama sebagai wujud syukur. Setelah berproses sekian lama, Mata Jiwa dapat ditonton di jaringan kawan-kawan dan anak-anak ODM di berbagai kota. “Nobar bagi kami adalah apresiasi kepada anak-anak yang telah sungguh-sungguh berkreasi,” imbuh Kak Edy yang berperan sebagai Bapak dalam film ini. Arti nobar lain bagi anak-anak adalah ajang berbagi dengan teman-teman pelajar dan masyarakat luas. Dari kegiatan ini Kak Edy berharap mendapatkan feed back, sehingga anak-anak bisa terus belajar.

Enam kota nobar itu adalah Salatiga (5/11), Semarang (9/11), Kudus (11/11), Yogyakarta (18/11), Purbalingga (19/11), dan terakhir di Jakarta (28/11), bersamaan dengan peringatan puncak Hari Dongeng Nasional. Di Jakarta akan disaksikan oleh 400 pelajar se-Jabodetabek di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada hari Selasa (28/11).  (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: