Sustainability Day, Cara Hidup dan Bisnis Berkelanjutan

Unilever Indonesia menyelenggarakan acara Sustainability Day yang bertujuan untuk memasyarakatkan sustainable.
, Majalah Kartini | 11/12/2017 - 14:09

MajalahKartini.co.id  – Kelaparan, kemiskinan, kesehatan, perubahan iklim dan sampah yang mengotori lingkungan merupakan sederet isu sustainability yang dihadapi oleh dunia saat ini. Di Indonesia, 7,2 juta anak di hidup di bawah garis kemiskinan dan 40 anak dari setiap 1,000 kelahiran meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun.

Data BPS pada bulan Maret 2017 mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 27,77 juta orang, meningkat sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam hal lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menyatakan bahwa setiap tahunnya dihasilkan 65,8 juta ton sampah di Indonesia dengan tingkat pemilahan sampah di masyarakat yang masih rendah. Sebanyak 1,29 MMT (Million Metric Tons) sampah plastik dari Indonesia terbuang ke laut setiap tahunnya.

Masalah-masalah ini tidak akan dapat diatasi tanpa peran serta semua pihak, termasuk korporasi. Menekankan pentingnya dunia bisnis dalam mengatasi isu sustainability, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. Hemant Bakshi mengatakan keberadaan bisnis tidak boleh malah membuat masalah tersebut menjadi semakin besar.

“Sebaliknya, seyogyanya dunis bisnis menjadi bagian dari solusi. Strategi dan aktifitas bisnis yang berbasis pada prinsip sustainability menjadi sangat penting dalam hal ini. Di Unilever, sustainability sudah menjadi DNA kami sejak pertama kali didirikan pada abad ke-19. Secara global, sejak awal Unilever memiliki tujuan besar untuk memasyarakatkan kehidupan yang sustainable atau berkelanjutan melalui produk-produk dan program-programnya. ”

Dalam rangka membangun kesadaran masyarakat mengenai isu sustainability dan bagaimana peran dunia bisnis dalam mengatasinya, Unilever Indonesia menyelenggarakan acara Sustainability Day yang bertujuan untuk memasyarakatkan /sustainable. Acara yang menampilkan figur-figur di dunia bisnis dan LSM yang terkenal dengan kepeduliannya terhadap isu ini sekaligus untuk memperingati hari jadi Yayasan Unilever Indonesia ke-17.

Mari Elka Pangestu, President of United in Diversity Foundation and Leadership Council of UN SDSN Southeast Asia and Indonesia menjelaskan jika tantangan dan permasalahan yang dihadapi di dunia bisa dijawab melalui program berbasis sustainability. Sustainable Development Goals (SDG / Global Goals) yang diusung PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Global Goals menetapkan sebuah visi untuk mengakhiri kemiskinan, kelaparan, ketidaksetaraan dan perlindungan sumber daya alam pada tahun 2030.

“Disinilah bisnis memiliki peran penting dalam membentuk dan memberikan solusi kreatif dari Global Goals, dan terus melakukannya dalam penyampaian tujuan sekaligus menciptakan kemajuan bagi masyarakat luas.”

Unilever percaya bahwa bisnis harus menjadi solusi permasalahan di dunia, oleh karena itu Unilever mengintegrasikan sustainability ke dalam seluruh aspek bisnis. Pada tahun 2010, Secara global, Unilever meluncurkan Unilever Sustainable Living Plan, strategi untuk terus mengembangkan bisnisnya seraya mengurangi setengah dampak lingkungan yang ditimbulkan dan meningkatkan dampak sosial bagi masyarakat.

USLP berfokus pada tiga pilar utama yaitu pilar kesehatan dan kesejahteraan (Health and Well-being); pilar lingkungan (Environment); serta pilar peningkatan penghidupan (Enhancing Livelihood). Sedangkan tiga tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan 1 milyar orang di seluruh dunia pada 2020, mengurangi setengah dari dampak lingkungan yang dihasilkan dari operasi bisnisnya pada 2030 dan meningkatkan penghidupan jutaan orang pada 2020.

“Setiap tujuan tersebut diturunkan menjadi target-target spesifik yang terukur. Seluruh target USLP sangat sejalan dengan 17 tujuan global atau Global Goals yang diusung oleh PBB,” Papar Hemant Bakshi.

Di Indonesia, melalui Yayasan Unilever Indonesia (YUI), Unilever telah menyusun dan mengimplementasikan berbagai program strategis berbasis masyarakat semenjak tahun 2000 saat Yayasan tersebut pertama kali berdiri. Hal itu sejalan dengan misi nya untuk menggali dan memberdayakan potensi masyarakat, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, menyatukan kekuatan dengan mitra-mitranya dan bertindak sebagai katalis untuk pembentukan kemitraan baik dari institusi pemerintahan, LSM, akademisi, atau kelompok masyarakat setempat.

“Bagi Unilever, mendirikan YUI merupakan investasi yang serius, untuk itu hari ini kami dengan sangat bangga merayakan keberadaan YUI selama 17 tahun” ungkap Hemant.

Dalam pilar kesehatan dan kesejahteraan (Health and Well-being) hingga tahun 2016 Unilever bersama brand-brand nya telah mempromosikan Perilaku Hidup Bersihdan Sehat (PHBS) melalui program komunirtas seperti program Pasar Sehat Berdaya, program Ibu Sehat dan program sekolah.

Program ini telah menjangkau 88 juta orang Indonesia. Upaya melestarikan lingkungan (Environment) dilakukan dengan mengembangkan 1,630 bank sampah di 17 kota di 12 provinsi, dimana bank sampah telah mengumpulkan 4,363 ton limbah anorganik. Unilever Indonesia juga memiliki program 0 (zero) sampah dari seluruh pabrik dan kantor pusat yang terbuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), serta mengembangkan satu teknologi mutakhir pengolahan sampah plastik fleksibel yang dinamakan CreaSolv® Process.

Pada pilar peningkatan penghidupan (Enhance Livelihood), hingga tahun 2016 Unilever Indonesia telah meningkatkan mata pencaharian 35,500 petani kedelai hitam dan petani gula kelapa yang memasok bahan baku kecap Bango. Semenjak 2012, Unilever Indonesia memberdayakan pemetik teh di balik daun SariWangi, serta membantu lebih dari 500 ribu peritel kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka melalui platforn distribusi berbasis IT – LeverEdge. (Doc. Pribadi)

Tags: , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: