Sujadi Siswo, Jurnalis yang Hidup di Antara Dua Budaya

Selain menyukai masakan Manado dan Sunda, Sujadi juga suka mengunjungi tempat terpencil di seluruh Indonesia.
, Majalah Kartini | 23/04/2017 - 10:02

Sujadi

MajalahKartini.co.id – Lahir dan besar di Singapura, Koresponden Senior Channel News Asia ini berbicara tentang pertaliannya dengan Indonesia: nenek moyang Indonesianya, kemampuannya berbahasa Indonesia, serta mengapa negara kepulauan terbesar ini memiliki tempat spesial di hatinya. Sujadi Siswo bukan wajah baru di dunia jurnalistik. Mantan Kepala Biro Indonesia ini dikenal karena peran pentingnya dalam memberikan liputan mendalam dalam hal politik dan nasional, dari Sabang sampai Merauke.

Nama Jawa-nya serta penampilan fisiknya menyebabkan banyak orang yang menyangka ia orang Indonesia. Tetapi sebenarnya ia adalah Warga Negara Singapura, walaupun memang pria 52 tahun ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Indonesia.

“Nama saya sangat Indonesia karena ayah saya adalah orang Jawa dari Purbalingga. Dia pindah ke Selangor, Malaysia sebelum Perang Dunia II di tahun 1930-an, dan menjadi bagian dari diaspora Indonesia. Ibu saya berasal dari Johor.Lalu orang tua saya pindah ke Singapura. Singkatnya, saya adalah keturunan dari ayah Jawa dan ibu Melayu, walaupun karakter pribadi saya adalah Singapura,” katanya.

Sujadi menikah dengan Noorasikan Ramli, yang juga adalah seorang WN Singapura keturunan Indonesia dari Bawean, Jawa Timur. Pasangan ini dikaruniai tiga anak. Bangga menjadi warga Singapura dengan keturunan Indonesia, mereka bahkan menamakan anak-anak mereka dengan nama Indonesia: Nur Sulastri, Teguh Budiman dan Ilham Luhur. “Harapan kami adalah bahwa mereka selalu ingat asal-usul keturunan mereka,” kata Sujadi.

“Tidak banyak keluarga Jawa-Singapura yang berminat untuk melacak kembali asal usul mereka, tapi tidak demikian dengan keluarga saya. Saya ingat ketika ayah saya membawa saya untuk mengunjungi sanak keluarganya pada tahun 1970-an di Purbalingga. Kala itu, saya merasakan gegar budaya, betapa berbedanya kehidupan di sana dengan Singapura yang kosmopolitan. Tapi pada saat yang sama, saya merasa sangat beruntung bahwa saya bisa bertemu dengan kerabat saya dari tanah leluhur saya,” kenang Sujadi.

Sujadi memiliki pandangan yang sangat mendalam tentang Indonesia karena ia pernah tinggal di Indonesia selama lebih dari 10 tahun. “Jadi saya tidak seperti orang Singapura pada umumnya yang memiliki pandangan yang terbatas tentang Indonesia dan masyarakatnya. Selain itu, saya juga memiliki keluarga dan kerabat di Indonesia,” katanya lagi.

Baginya, dalam satu kata, Indonesia sangat kaya dalam berbagai hal; budaya, sejarah, sumber daya alam hingga kekayaan kulinernya.

Sudah banyak daerah Indonesia yang ia kunjungi untuk berlibur. Ia mengatakan ada begitu banyak tempat indah yang layak dikunjungi di Indonesia. “Saya sudah mengunjungi semua pulau kecuali Papua. Suatu hari, suatu hari saya akan mengunjungi Papua. Umumnya saya suka daerah terpencil. Saya suka suasana tenang dan damai di daerah,” lanjutnya.

Ada begitu banyak hidangan lezat di Indonesia, tapi Sujadi mengaku sangat suka masakan Manado dan Sunda. Kita benar-benar memiliki banyak kesamaan dalam hal makanan. Selain makanan Cina, makanan Melayu juga populer di Singapura. Jika Anda melihat makanan Melayu, ada banyak kesamaan karena sebagian besar hidangan Melayu berasal dari Sumatera, sebagian besar dari Padang atau Medan. Walaupun tentu sudah ada banyak penyesuaian sehingga Anda tidak mendapatkan rasa asli seperti makanan Padang atau Medan.

Lebih lanjut ia mengatakan terkadang sangat sulit untuk memahami orang-orang Indonesia karena mereka cenderung bersikap sopan dan non-konfrontatif. Dalam beberapa kasus, Anda harus menebak apakah kata “ya” benar-benar berarti “ya” atau itu hanyalah cara sopan untuk mengatakan “tidak”. Stereotip ini mengacu pada beberapa etnis, seperti Jawa. Namun, tidak selalu berlaku dalam kasus etnis lain, seperti suku Batak misalnya.

Sujadi telah mengunjungi hampir seluruh nusantara dalam menjalankan tugasnya melaporkan berbagai macam berita. “Saya ingat hari-hari di mana saya harus melakukan berbagai laporan di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Benar-benar melelahkan, belum lagi bermacam kemunduran yang saya hadapi di lapangan, tapi masa saya di Indonesia adalah salah satu yang paling mengesankan,” katanya.

Di antara banyak penugasannya, yang paling berkesan selama bertugas di Indonesia termasuk, antara lain, liputan bom Bali pada bulan Oktober 2005, gempa bumi di Jawa Tengah pada bulan Mei 2006, serta berbagai peristiwa politik selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejalan dengan itu, kepiawaian Sujadi dalam hal melaporkan berita tentang Indonesia menandai tonggak penting dalam karirnya, ketika ia dinobatkan menjadi “Journalist of the Year” pada tahun 2010 oleh Media Corp.

Selama bertugas sebagai Kepala Biro Indonesia, dari tahun 2005 hingga 2015, Sujadi membagi waktunya antara Singapura dan Jakarta sebagai koresponden berita untuk CNA, yang merupakan bagian dari Media Corp Singapura, perusahaan pertama tempat Sujadi memulai karir jurnalistiknya.(Foto : dok. CNA)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: