Sejarawan: Nasionalisme Bukan Barang Jadi, Harus Dibangun Bersama

Dalam sejarah Indonesia modern, generasi muda berperan di ‘garis depan’
, Majalah Kartini | 17/08/2016 - 11:00
MajalahKartini.co.id – Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Romo Baskara T Wardaya mengatakan generasi muda saat ini perlu mempelajari sejarah Indonesia, terutama bagaimana Republik Indonesia diperoleh bukan sebagai hadiah, tetapi diperjuangkan dengan keringat, darah, dan airmata.
Menurut Romo Baskara, nasionalisme bukan barang jadi, tetapi harus terus dihidupkan, dibangun bersama, dan tidak bisa seakan-anak sudah ada seperti dalam bentuk wilayah negara. “Nasionalisme itu di hati, di pikiran, dan itu harus kita bangun terus dan itu harus bersama-sama,” katanya di Magelang, Selasa (16/8) malam.
Generasi muda, ujarnya, juga perlu melihat tantangan dan peluang keindonesiaan sekarang ini, tentang apa dan bagaimana hal itu dihadapi sehingga nasionalisme itu riil dan bukan menjadi bayangan.
“Apa itu, maksudnya pengaruh asing kan begitu kuat karena zaman globalisasi, internet dan sebagainya. Kalau tidak memahami sejarah, semua akan masuk. Tetapi kalau kita tahu sejarah lalu kita hati-hati terhadap pengaruh dari luar, dari kapitalisme, kadang-kadang juga dari agama, yang kadang-kadang antipancasila dan sebagainya, yang berkedok Pancasila tetapi sebetulnya antipancasila. Itu semua harus kita hadapi,” katanya.
Ia mengemukakan, selain menjadi tumpuan memperkuat nasionalisme, generasi muda juga merupakan kelompok yang rentan terhadap tantangan nasionalisme era sekarang. Oleh sebab itu, ia mengemukakan pentingnya mendefinisikan apa sebenarnya tantangan dihadapi mereka, misalnya tidak hanya kelompok-kelompok antipancasila, tetapi juga konsumerisme, penjarahan hutan, berbagai sumber daya alam Indonesia.
Romo Baskoro menyebutkan, selain sebagai kelompok rentan, generasi muda juga memiliki kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Mereka sebagai kelompok rentan, karena zaman sekarang pemuda diekspose, dibanjiri informasi, dan banyak mendapat pengaruh luar yang belum tentu sesuai dengan semangat keindonesiaan.
Akan tetapi, katanya, mereka juga ada yang memiliki kekuatan dan mampu bertahan menghadapi tantangan global, yakni anak-anak muda yang kreatif dan cinta Tanah Air. Dalam sejarah Indonesia modern, generasi muda berperan di ‘garis depan’, seperti saat berdiri Boedi Oetomo, era Soekarno-Hatta, naiknya Soeharto juga didukung pemuda meskipun ternyata disponsori ‘orang lain’ untuk menjatuhkan Soekarno, serta lahirnya reformasi yang juga dipelopori pemuda.
Ia menyebut nasionalisme sebagai hal yang riil dengan tantangan yang secara bersama-sama dihadapi. “Dari situ nanti nasionalisme itu menjadi riil, bukan hanya menjadi bayangan, tetapi sesuatu yg dihadapi bersama. Bagaimana kita bersama-sama sebagai bangsa menghadapi tantangan-tantangan itu. Saya kira, itu nasionalisme bisa tumbuh,” katanya.
Tantangan membangun nasionalisme sebagai hal yang jelas pada masa lalu, saat perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan RI, yakni melawan penjajahan bangsa lain. Akan tetapi, ia menjelaskan, ancaman nasionalisme pada saat ini lebih plural dan banyak, sehingga tidak bisa dihadapi secara individual dan harus didefinisikan tentang hal mana yang harus dihadapi terlebih dahulu.
“Misalnya masuknya modal asing yang membuat Bangsa Indonesia sekadar pasar, artinya kita harus mendidik orang-orang muda menjadi produser, bukan ‘consumer’. Kalau sekarang ada kebakaran hutan untuk sawit, bagaimana kita menyadarkan bahwa itu hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil orang, tetapi merugikan banyak orang. Soal emas di Papua, bagaimana kita punya ahli-ahli yang sebenarnya bisa mengambil alih dan mengelola itu,” katanya. (ANT/Foto: ANT/Nyoman Budhiana)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: