Saatnya Pemuda Beraksi Atasi Beban Sistem Pangan di Masa Depan

Forum ini diharapkan bisa menjadi wadah dan katalis dimana pemuda dapat mengembangkan potensinya untuk menjadi pelaku pembangunan.
, Majalah Kartini | 23/10/2017 - 17:02

MajalahKartini.co.id – Forum for Young Indonesians (FYI) dengan tema “Our Food, Our Future” kemarin Minggu (22/10) digelar di Hall Usmar Ismail Kuningan dengan menghadirkan pakar-pakar terkemuka seperti Wakil Presiden Republik Indonesia ke-11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, ekonom Faisal Basri, musisi dan aktivis lingkungan Nugie, serta inovator-inovator muda yang berhasil memberi ‘warna’ baru dalam praktik sistem pangan berkelanjutan dari hulu ke hilir.

Forum yang digagas oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan didukung oleh mitra penyelenggara ID COMM, ditekadkan sebagai wadah dan katalis dimana pemuda dapat mengembangkan potensinya untuk menjadi pelaku pembangunan; menjadi sumber informasi dan pengetahuan, membangun lingkungan yang ramah terhadap inovasi, mendorong terwujudnya gagasan menjadi aksi, dan memberikan pendampingan melalui jejaring multi-sektor – yang tahun ini khususnya berfokus pada isu pangan.

Ketua FYI dan Direktur Program CISDI Anindita Sitepu mengatakan bahwa CISDI secara konsisten memperjuangkan keterlibatan pemuda dalam berbagai dimensi pembangunan. Isu ketahanan pangan dilihat sebagai pintu masuk yang tepat, karena merupakan salah satu cerminan pencapaian pembangunan berkelanjutan. Keterkaitannya yang erat dengan pemeliharaan lingkungan hidup, dan kemandirian ekonomi, menyebabkan sistem pangan berada dalam posisi strategis. “Pemuda, dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah penggagas dan inovator unggul yang berpotensi menciptakan disrupsi positif, namun mereka tentu perlu didukung lingkungan yang kondusif, serta kesempatan dan akses untuk berkarya dan mengembangkan diri”, ujarnya.

Misi ini didukung kesadaran bahwa populasi Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif, dimana berdasarkan sensus populasi tahun 2010, Indonesia memiliki 63 juta pemuda yang jumlahnya setara dengan 26% dari 238 juta total penduduk Indonesia. Tahun 2020 hingga 2035, Indonesia akan menikmati suatu era langka yang disebut dengan Bonus Demografi dimana jumlah usia produktif diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah.Karenanya perlu dipastikan pemuda Indonesia berkualitas tinggi dan aktif sebagai pelaku pembangunan bukan sekedar menjadi obyek.

Terkait dengan potensi sumberdaya manusia ini, Pendiri CISDI & Staf Khusus Menteri Kesehatan RI Bidang Peningkatan Kemitraan dan Sustainable Development Goals (SDGs), Diah S. Saminarsih, menambahkan bahwa Asia Pasifik adalah kawasan regional dengan populasi terpadat di dunia. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak di kawasan Asia Pasifik dan memiliki tantangan pembangunan yang sangat kompleks.

“Indonesia membutuhkan reformasi sistem pangan dan berbagai terobosan pada lini produksi, proses pengolahan, diversifikasi, distribusi hingga manajemen limbah pangan dengan berpegang teguh pada prinsip keberlanjutan bagi kesehatan manusia dan kesejahteraan bumi. Terutama untuk Indonesia, pemudalah yang diharapkan mampu berperan sebagai pembawa pesan pembaharu ini.” Diah juga menekankan pentingnya kolaborasi antar-sektor dan antar pihak, baik publik maupun swasta bersama dengan masyarakat sipil untuk mewujudkan aspirasi besar ini.

Sejalan dengan kerangka pikir SDGs isu pangan sendiri menyentuh hampir semua dari 17 butir pembangunan SDGs antara lain kemiskinan, kesehatan dan kesejahteraan, kesetaraan jender, ketersediaan air bersih dan sanitasi, energi yang terbarukan, inovasi dan infrastruktur, pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab, kelestarian bumi, bahkan keanekaragaman kehidupan di laut. Diah menegaskan bahwa upaya pemenuhan sektor pangan hari ini, tidak boleh mengancam kelestarian dan mengorbankan kepentingan di masa depan.

“Kami ingin memberikan wawasan yang lengkap dari berbagai aspek dan membangkitkan kesadaran yang utuh. Oleh sebab itu, diskusi sepanjang hari ini dikemas untuk menyentuh berbagai topik mulai dari tinjauan makro terhadap isu pangan, dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia secara global, hingga budaya konsumsi di tataran individu. Kami juga mendorong agar perwakilan masyarakat sipil, utamanya pemuda, mau berkiprah sebagai social entrepreneur yang saat ini semakin dibutuhkan,” jelas Direktur ID COMM, Sari Soegondo. (Foto: FYI)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: