Perjuangan Kowani Usulkan Malahayati Sebagai Pahlawan Nasional Perempuan

Tuhan memberinya jalan telah mempertemukan ia dengan ahli waris Laksamana Malahayati.
, Majalah Kartini | 10/11/2017 - 19:08

MajalahKartini.co.id – Bermula dari pembelian lukisan di museum Joeang DHN ’45 dan Wirawati Catur Panca seharga kurang lebih Rp 10 juta pada 2001, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd (Kongres Wanita Indonesia) akhirnya membawa lukisan Laksamana Malahayati tersebut ke sekretariat Kowani Jl. Imam Bonjol Jakarta Pusat. Pertama ia letakkan di ruang tengah, kemudian pada saat ia menjadi Ketua Umum Kowani di tahun 2014 ternyata gambar tersebut ada diatas tangga dan ia minta kembali di ruang tamu Kowani.

“Saat saya tidak aktif, lukisan ditaruh di atas yang tempatnya tidak terlihat bahkan kena hujan, kemudian saya kembali saya minta lukisan ini ditaruh di ruang tamu ditempat yang terhormat,” ujar Giwo bercerita saat ditemudi di sekretariat Kowani usai Doa Lintas Agama untuk Pahlawan dan Jalan Sehat Kebangsaan Minggu, (5/11).

Pada tahun 2016, ia mengangkat staf ahli dari purnawirawan Pati TNI-AL lalu dia mengatakan bahwa gambar tersebut adalah Malahayati di angkatan laut sudah menjadi pahlawan, bahkan sudah digunakan menjadi KRI/kapal perang, setara dengan nama-nama Ki Hajar Dewantoro, Sultan Hassanudin, Pangeran Diponegoro, Kristina Tiahahu dll, dimana mereka adalah pahlawan-pahlawan nasional. “Singkat kata Malahayati bagi TNI AL adalah pahlawan,” ujarnya.

Pada acara HBH Keluarga Besar Kowani pada 21 Juni 2016 yang kebetulan acaranya dipadati oleh pengunjung dan meriah serta khidmat dihadiri Moeryati Soedibyo, Linda Agum Gumeiar, Soelasikin Murpratomo, Tri Tito Karnavian, Rosa Rai Djalal, dll. Entah sengaja atau tidak ternyata Menteri Sosiai RI Khofifah Indar Parawansa justru datang menjelang berakhirnya acara dimana jumlah tamu sudah berangsur sedikit sehingga ia bisa menemui secara khusus dan berbincang banyak hal.

“Menjelang ibu menteri kembali kita menuju backdrop tempat photo, setelah itu beliau di wawancarai pada saat itulah, beliau melihat sederet photo pahlawan. Pada saat itulah saya sebagai ketua umum Kowani menyampaikan bahwa jumlah pahlawan perempuan nasionai hanya 12 dari 169 pahlawan nasional. Maka saya berinisiatif mengusulkan agar Malahayati bisa diusulkan menjadi pahlawan nasional,” jelas Giwo. Ternyata pernyataan Giwo mewakili Kowani tidak hanya disetujui, bahkan ia menantang untuk segera diajukan dan akan diproses. Namun karena beberapa kesibukan terutama sedang menulis buku 11 Windu Kiprah Kowani maka usulan tersebut belum diproses.

Memasuki tahun 2017 Kowani bertekad untuk mengusulkan Malahayati sebagai pahlawan nasional. Dimulai dari TNI-AL karena instansi yang sudah menggunakan nama Malahayati adalah TNI-AL. Maka Kowani melayangkan surat kepada Kepala Staf TNI-AL up. Kepala Dinas Penerangan TNI-AL untuk mendapat dasar-dasar seputar penggunaan nama-nama tersebut termasuk informasi tambahan tentang Malahayati. Bahkan Kowani sempat CC ditemui oleh KASAL pada 9 Mei 2017.

“Bersamaan dengan upaya-upaya tersebut secara kebetulan saya pernah mengenal seorang ibu asal Aceh namanya HJ. Pocut Haslinda Muda Dalam Azwaar (Ida Syahrul), yang kebetulan sedang menulis buku tentang Aceh termasuk ‘Keumalahayati”. Ternyata ibu Ida adalah kerabat dari Keumalahayati sehingga dia sangat mendukung pengusulan Malahayati sebagai pahlawan nasional, karenanya dia bersedia hadir dalam rapat-rapat tentang Malahayati,” terang Giwo bercerita.

Kemudian pada waktu yang hampir bersamaan ternyata Group AFT (asosiasi Film dan televisi) atas arahan dari Pemimpin TNI AL berkunjung ke Kowani karena ingin mengajak berkolaborasi bersama menggali tentang riwayat dan sejarah Malahayati. Ternyata tim AFT bergerak sangat proaktif dan dinamis, rupanya mereka telah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan beberapa instansi dan lembaga lainnya. Salah satunya dengan menggandeng Menko Kemaritiman yang “katanya” bersedia menjadi leading sector pelaksanaan FGD, bahkan penyandang dana.

Akhirnya diadakan rapat untuk persiapan FGD dan menyusun langkah-langkah merealisasikan Malahayati sebagai Pahlawan Nasional sembari riset dalam dan luar negeri untuk pembuatan film kolosal Malahayati. Disepakati bahwa Kowani akan bekerja sama dengan AFT dan stakeholder lainnya untuk melaksanakan FGD di Aston Sentul dan diwacanakan bahwa kerjasama tersebut perlu dituangkan dalam MOU. “Akhirnya forum diskusi bertajuk ‘Laksamana Malahayati dalam Rangka Penguatan Jati Diri sebagai Bangsa’ dengan panitia AFT bekerja sama dengan Menko Maritim yang digelar di Hotel Aston Sentul, Bogor, Rabu, 17 Mei 2017,” ujarnya.

Sejumlah tokoh dan sejarawan menyayangkan tak banyak yang mengenal sosok Malahayati. Bahkan, pemerintah pun belum memasukkan laksamana perempuan pertama di dunia ini sebagai pahlawan nasional. Pada FGD ini di hadiri dari berbagai pihak termasuk dari pemerhati perempuan, Wirawati Catur Panca, Paguyuban Wanita Pejuang, Dispenal, Kemenko Maritim, Kowani, Kasdinepal TNI-AL dll.

Selesai FGD Kowani melaksanakan rapat evaluasi atas FGD tersebut. Pada kesempatan itu, Ida Syahrul menyampalkan bahwa sesungguhnya ahli waris Malahayati masih ada yang hidup, walaupun ada isu sebelumnya bahwa Malahayati tidak punya keturunan. Seketika itu Kowani mengirim surat resmi kepada Ahli waris tersebut yang bertempat tinggal di Lombok NTB dengan kesanggupan menanggung transportasi dan akomodasi untuk dua orang. “Syukur Alhamdulillah Allah memberikan banyak tanda-tanda kemudahan dalam proses ini antara lain Kesediaan Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur’alam atau “Bundo Putro” hadlr di Jakarta dengan banyak bercerita tentang Malahayati,” imbuhnya dengan nafas lega.

Pada event Kowani fair lagi-lagi Allah memperlihatkan jalannya dimana selain kesediaan Mensos Khofifah sebagai keynote speech, dimana dalam keynote speech tersebut Khofifah kembali menyinggung soal “Calon” Pahlawan nasional Malahayati hal tersebut menjadikan Kowani lebih bersemangat. “Beberapa hari kemudian dalam suasana ramadan Ibu Khohfah mengundang berbuka puasa dikediaman dan sempat diskusi seputar mekanisme pengusulan tersebut, intinya beliau sangat mendukung,” ujar Giwo.

Setelah mendapat dukungan dan arahan Kowani bergerak ke Kemensos menghadap Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial, Hartono Laras kemudian diberikan arahan tentang mekanisme (form blangko) usulan pahlawan nasional Malahayati termasuk adanya tim tiga belas yang diketuai oleh KAPUSJARAH TNI. Berdasarkan hal tersebut Kowani melaksanakan koordinasi dengan KAPUSJARAH untuk audiensi dan ditemui pada 7 Juni 2017.

Dari seluruh rangkaian panjang tersebut kembali Kowani melaksanakan rapat lengkap yang dihadiri oleh ”Bundo Putro” kemudian mengerucut bahwa sebelum dilaksanakan seminar Malahayati di Aceh dipandang perIu harus dengar pendapat umum dahulu dengan Komisi X DPR-RI yang terealisasi pada 6 Juni 2017. Dengan rekomendasi sementara dari Komisi X sangat mendukung usulan tersebut, bahkan dihadiri wartawan dari Harian “Serambi Indonesia” dengan pesan dari ketua komisi X agar di mediasikan dengan Pemerintah Provinsi Aceh.

“Kembali Kowani berkirim surat kepada Gubernur Aceh untuk mengusulkan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional dari daerah Aceh kepada Kemensos karena itu adalah menjadi keharusan. Usulan dari pemerintah daerah setempat menjadi syarat utama,” katanya. Setelah ditunggu beberapa saat dengan komunikasi yang cukup alot dan intens dengan orang terdekat Gubernur, pemerintah provinsi daerah Aceh mengirimkan surat kepada Kemensos pada 9 Juni 2017, Nomor : 464.1/7678, Perihal Rekomendasi. Akhirnya pemerintah Daerah Provinsi Aceh melaksanakan seminar di Aceh pada 3 Agustus 2017 dihadiri oleh pewakilan dari Kowani Titien Pamudji, Sekretaris Jendral dengan judul “Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional”

“Akhirnya bola proses usulan berada pada tangan tim tiga belas, walau sempat terdengar bahwa nama Laksamana Malahayati tidak ada dalam usulan tersebut. Untuk hal tersebut akhirnya saya konfirmasi kepada Ibu Khofifah mengenai hal tersebut. Dengan jaminan dari Ibu Menteri bahwa proses tetap berjalan, Insya Allah tanggal 10 November 2017 tepat pada hari Pahlawan paling lambat 22 Desember (Hari Ibu) Malahayati sudah final menjadi Pahlawan Nasional Perempuan sebagaimana yang kita harapkan,” Tuturnya.

Dan alhasil, dengan upaya dan doa Kowani tanpa patah semangat akhirnya berbuah manis. Dan pada Kamis, 9 November 2017 Presiden RI Joko Widodo menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional Laksamana Malahayati dari Aceh pada upacara penganugrahan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh. (Foto : Andim)

Tags: , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: