Perempuan dalam Buku ‘Kaoetamaan Istri’ Karya Dewi Sartika

Ada tiga keutamaan perempuan dari pemikiran Dewi Sartika dan erat kaitannya dengan pendidikan bagi kaum perempuan.
, Majalah Kartini | 06/12/2016 - 07:00

MajalahKartini.co.id – Raden Dewi Sartika dikenal sebagai tokoh perintis pendidikan bagi kaum perempuan dari Jawa Barat. Sebagai tokoh perintis pendidikan, ia buktikan dengan mendirikan sekolah dengan nama ‘Sakola Istri’ pada tahun 1904 yang kemudian berganti nama pada 1910 menjadi ‘Sakola Kautamaan Istri’, dan sekarang bernama ‘Sekolah Dewi Sartika’.

Selain itu, kepeduliaan Dewi Sartika terhadap perempuan, ia tuangkan dalam sebuah buku dengan judul ‘Kaoetamaan Istri’. Buku itu ia tulis pada tahun 1911 setelah tujuh tahun mendirikan ‘Sakola Istri’. Buku itu ditulisnya dalam bahasa sunda dan diterbitkan oleh A.C.NIX & Co pada tahun 1912.

Penyusunan buku itu, dalam sebuah kata pengantan (Boeboeka), ditujukan sebagai bahan bacaan anak sekolah dan juga orang tuanya. “Iue boekoe dingaranan boekoe “Kaoetamaan Istri” batjaeun baroedak sakola djeung kolot-kolotna. (Buku ini diberi judul ‘Kautamaan Istri’, untuk bahan baccaan anak sekolah dan orang tuanya), tulis Dewi Sartika seperti dikutip KARTINI dari Pikiran Rayat, Minggu (4/12).

Menilik maksud penulisan pengantar yang ditulis oleh Dewi Sartika itu, terlihat pemikiran Dewi Sartika kala itu sudah terdepan. Di mana, ia menilai membangun pendidikan bukan hanya soal belajar mengajar di dalam kelas. Melainkan orang tua juga harus ikut terlibat memahami perannya membangun pendidikan.

Saat ini, Kementerian Pendidikan dan Keebudayaan (Kemendikbud) memiliki Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, yang berada di bawah Direktorat Jendral PAUD dan Pendidikan Masyarakat. Direktorat itu salah satu fokusnya adalah pada pendidikan bagi orang tua untuk ikut terlibat dalam memberikan pendidikan yang baik pada anak di level rumah. Di mana program tersebut sudah jauh dipikirkan oleh Dewi Sartika.

Dewi Sartika juga mengungkapkan bahwa terdapat tiga hal utama yang menjadi dasar keutamaan seorang perempuan. Di mana ia menuliskan pertama berdasarkan Bangsanya, kedua, adat dan kebiasaan, dan ketiga pendidikan yang ditanamkan sejak kecil.

Kemudian, Dewi Sartika menyampaikan soal keutamaan sebagai perempuan. Utama, dalam bahasa sunda berarti bagus, hebat, atau ideal. Di mana keutamaan itu menurutnya adalah menjadi seorang yang hebat, yakni terdidik dan cerdas, agar bisa ikut mencerdaskan generasi penerus mereka.

Dewi juga mengungkap perihal sedikitnya perempuan pribumi yang bagus dalam pendidikan di zamannya. Jikapun itu ada, mayoritas mereka ialah berasal dari kaum bangsawan (kaum menak). Sementara untuk masyarakat kecil, kurang mendapatkan akses itu. Tetapi, Dewi Sartika melihat adanya hasrat kaum masyarakat kecil untuk bisa maju. Bisa maju pemikirannya, maju keahliannya, maju tingkah lakunya, hingga sejahtera hidupnya.

Hal itu ia lihat, di mana kaum masyarakat kecil yang sering bergaul dengan kaum bangsawan kerap meniru dari segi berbahasa maupun cara berpakaian. Kemjauan itu, lanjut Dewi Sartika, bisa dimulai melalui pendidikan. Di mana hal itu juga menjelaskan alasan Dewi Sartika mendirikan ‘Sakola Istri’.

Menurut perempuan kelahiran Bandung, 4 Desember 1884 pendidikan adalah alat terbaik untuk membereskan, memperbaiki dan memajukan segala hal dalam kehidupan. “Serupa kayu yang masih kasar, bisa dihaluskan dengan alat. Pohon kecil harus dipupuk. Orang yang berkelakuan buruk bisa dididik. Yang bodoh harus belajar,”

Buku yang terdiri dari lima bab dan 24 halaman itu, Dewi Sartika mengungkapkan pemikirannya dalam upaya mengubah paradigma masyarakat yang masih menilai perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan. Namun ia selalu percaya, bahwa perempuan adalah garda terdepamn dari pendidikan. Alasannya, karena perempuan menjadi sosok pertama yang memberikan pengertian dan pemahaman tentangan berbagai hal pada anak, generasi penerus bangsa. (Sopan Sopian/Foto: PJTV)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: