Pameran Nusawastra, Membaca Pesan dan Kisah di Setiap Lembaran Kain

Apartemen Saumata menyelenggarakan pameran Nusawastra at Saumata yang terinspirasi dari buku Nusawastra Silang Budaya karya kolektor kain, Quoriena Ginting.
, Majalah Kartini | 06/11/2017 - 19:02


MajalahKartini.co.id – Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengaku sedang mengumpulkan 3.000 koleksi seni milik Presiden I RI, Bung Karno, yang berupa lukisan, patung, juga keramik, yang selama ini tersebar kemana-mana.“3.000 Koleksi seni itu, yang sudah bisa dikumpulkan baru 1.796 lukisan, yang rencananya akan dibukukan,” kata Pramono saat memberikan sambutan pada pembukaan Pameran Nusawastra at Saumata, di Saumata Apartment, Tangerang, Banten, Sabtu (4/11) siang.

Pameran yang menghadirkan ragam koleksi batik, songket dan tenun seluruh Nusantara milik kolektor kain Quoriena Ginting ini terinspirasi dari buku Nusawastra Silang Budaya yang disusun oleh Quoriena Ginting.  Seskab menilai, saat ini batik telah menjadi tren dunia, bahkan nanti pada awal bulan Februari, pakaian Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menggunakan sarung, jas, serta dikombinasikan dengan batik, akan menjadi ikon utama di beberapa fashion dunia di Milan dan juga New York. “Ini menunjukan bahwa kita sudah sangat mengalami kemajuan untuk itu,” ucapnya.

Seskab berharap, Quoriena Ginting juga menginspirasi terutama bagi perempuan di manapun untuk bisa menciptakan karya-karya yang tidak kalah dengan karya di luar negeri. “Saya mengucapkan terima kasih atas apresiasi seni budaya yang luar biasa, yang menjadi kekayaan kita bersama, karena Indonesia ini mempunyai lebih dari 714 suku, lebih dari 1.100 bahasa, lebih dari 17.000 pulau. Betapa kayanya Indonesia, dan itu tercermin dari batik-batiknya yang beragam,” pungkas Seskab.

Menurut Boy Noviyaadi, Marketing Director PT Sutera Agung Putera, Saumata ingin mengajak masyarakat lebih mengenal wastra Nusantara ini sebagai salah satu seni kriya.“Harapannya, tak hanya mengenal keindahannya tetapi juga pesan-pesan yang disampaikan dari masa lalu dan masa kini. Seperti dalam hal perancangan bangunan yang perlu memerhatikan harmonisasi antara fungsi dan estetika layaknya sebuah karya seni kriya. Apartemen Saumata mengedepankan konsep desain subtle luxury dan memadukan fungsi dan estetika dari bangunan yang dirancang”, kata Boy, Sabtu (4/11).

Lanjut Boy, berdasarkan kesamaan hal ini, Saumata menghadirkan pameran Nusawastra at Saumata yang akan mengungkapkan keindahan dan keunikan yang terkandung pada setiap helai kain.Dijelaskan, batik, songket dan tenun merupakan karya seni yang dibuat dengan memadukan antara fungsi dan keindahan. Motif-motif yang dibuat tidak sekadar untuk menyampaikan pesan, menceritakan kondisi pada zamannya tetapi juga memerhatikan unsur estetika.

Indonesia kaya dengan bahan wastra, ragam teknik, dan motif. Wastra atau kain adalah tenunan memori atas peradaban. Batik, songket dan tenun merupakan bagian dari jejak simbol yang kini dibaca sebagai keindahan dan manfaat sebagai busana, aksesoris maupun produk interior.“Menjadikan dua khasanah ini tetap ada, merupakan aset yang tak ternilai. Baik itu aset berupa produk, lebih dari itu sebagai jejak sejarah dan ilmu yang bisa dibaca dari generasi ke generasi,” kata Boy.

Kolektor kain dan penulis buku Nusawastra Silang Budaya, Quoriena Ginting menyambut baik pelaksaaan pameran ini. Sama dengan batik, songket dan tenun juga cara masyarakat dahulu “menulis” untuk menyampaikan pesan.
“Ragam tenun di Indonesia pun tinggi, termasuk dari bahan dan corak. Memang sudah banyak tenun yang dihasilkan oleh mesin, hanya tenun yang dibuat manual dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) tetap mempunyai nilai khusus,” ujarnya.

“Ada sentuhan dan rasa setiap simpul benang. Meski jumlahnya tidak akan banyak sebab produksi membutuhkan waktu, tenun ATBM dan batik tulis menempati nilai tinggi ketika dikenakan maupun dikoleksi. Ada kisah di tiap lembarnya,” tambah Ginting.Ia berterima kasih kepada Apartemen Saumata atas terselenggaranya pameran yang bertujuan masyarakat kita menjaga ingatan terhadap budaya dan peradaban Nusantara dengan mengenali dan melestarikan wastra Nusantara.

Pameran ini memperlihatkan keindahan songket Palembang, batik Gentongan Madura, batik Pekalongan, Iban Kalimantan, dan Gringsing Bali. Selama pameran berlangsung ada kegiatan talkshow dan workshop mengenai batik, tenun, dan songket dengan Quoriena Ginting, Siti Maimona, Dhanny Dahlan, Dudung Alie Syahbana. (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: