Inovasi Baru Pengawet Tahu Berbahan Dasar Pisang

Alternatif hasil karya siswa SMA Bina Putera Kopo, Tangerang yaitu Palata sebagai pengganti formalin.
, Majalah Kartini | 23/11/2017 - 18:14


MajalahKartini.co.id РMaraknya pelanggaran di bidang pangan seperti penyalahgunaan pewarna non pangan, pengawet berbahaya, makanan kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar, serta berbagai modus pelanggaran lainnya, selain merugikan kesehatan masyarakat juga mengancam daya saing produk pangan Indonesia. Untuk itu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menginisiasi pengawasan berbasis komunitas melalui GERMAS SAPA (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman) yang dicanangkan secara resmi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK), Puan Maharani.

Pada acara GERMAS SAPA di Tuguh Api Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (23/11) BPOM meluncurkan pengawet alternatif hasil karya siswa SMA Bina Putera Kopo, Tangerang yaitu Palata sebagai pengganti formalin.

Ir. Akhmad Supriyatna, peneliti PT Karya Prima Organik mengungkapkan bahwa inovasi ini berawal dari keprihatinan pemerintah karena banyaknya pangan-pangan terutama tahu menggunakan bahan berbahaya, sehingga BPOM mencoba membuat satu inovasi yang akhirnya itu bisa menggantikan bahan-bahan berbahaya tersebut. Inovasi Palata ini melalui proses panjang bekerjasama dengan semua pihak mulai dari Perguruan Tinggi dan Pemerintah.

“Awalnya kita mulai dari sekolah, anak-anak SMA melakukan inovasi ini membuat bahan hasil permentasi yang kira-kira bisa membuat penampilan tahu itu lebih baik dan lebih punya daya tahan lebih lama. Kemudian dari hasil penelitian itu kita kuatkan dengan laboratorium, kita minta dukungan dari Lab, dukungan Perguruan Tinggi dan dukungan dari BPOM,” jelas Akhmad.

Adapun bahan dasar Palata ini sangat mudah didapatkan dan merupakan buah lokal yakni pisang. Mengingat pisang itu banyak tersedia di Indonesia, sehingga bahan dasar itulah yang kemudian diolah dengan cara tertentu dan treatment tertentu. Selain itu juga melalui proses fermentasi dengan bakteri tertentu.

“Ini sangat aman karena semua bahan alami. Kalau tahu sendiri hampir sama dengan tahu biasa tapi penampilan tahunya lebih baik dan tidak mudah rusak. Sejauh ini hasil ujih coba kita tidak ada perubahan apapun sehingga tidak merubah rasa, tidak merubah warna dll,” lanjut Ir. Hairudin Ali yang juga sebagai peneliti.

Sejauh ini, kata Hairudin penggunaan Palata pada tahu tidak ada perubahan, sedangkan formalin sangat dilarang digunakan pada bahan pangan. Dengan inovasi pengawet alternatif, produk-produk lebih sehat sehingga pedagang bisa mendapatkan tahu yang lebih baik, tidak mudah rusak sehingga sampai ke konsumen dalam keadaan baik.

“Produk ini dirangcang secara masal jadi sangat terjangkau untuk produsen tahu. Persisnya saya belum hitung secara persis harganya, tapi yang jelas dibawah angka Rp 15.000an. Dan harganya lebih murah dibandingkan dengan harga formalin tapi tahu lebih alami,” lanjut Ir. M Zakaria.

Hal senada juga diungkapkan Ir. Ignatia Widya K, ia mengatakan dalam proses pembuatan tahu dicampurkan Palata agar menghasilkan tahu yang kenyal namun tidak keras. “Teksturnya jadi lebih kompak lebih bagus karena biasanya konsumen mencari tahu itu yang bentuknya cantik. Jadi dengan penambahan ini teksturnya lebih bagus,” ungkapnya.

Ia mengaku inovasi ini menarik karena memanfaatkan bahan-bahan yang berlimpah dan berlebih di Indonesia. Awalnya, kata Tia awalnya inovasi ini bisa menggunakan berbagai jenis bahan selain pisang hanya saja dari sisi warna, aroma dan lain-lain ternyata pisang yang paling bagus. Selain itu pisang Indonesia sangat bagus untuk dibuat pengawet tahu karena aplikasinya lebih mudah. “Jadi dari pada pisang berlimpah busuk, bonyok tidak terpakai bisa kita manfaatkan,” imbuhnya.

Dengan menggunakan Palata, tahu bisa sampai ke pasar dan ke tangan konsumen dalam kondisi segar, karena tahu akan tetap terjaga sampai 48 jam tanpa formalin.

Ia menjelaskan beberapa kendala yang ditemu dalam menciptakan inovasi anak bangsa ini. Temuan ini adalah pertamakali dilakukan di Indonesia sehingga belum ada standar dan kategori produk juga proses mendapatkan izin cukup sulit. Tapi saat ini izin dari BPOM untuk Palata sudah keluar. “Sebetulnya dibutuhkan oleh pasar tapi karena tidak ada kategori proses dan lain-lain disitulah kita berjuang,” lanjutnya.

Adapun jenis pisang yang digunakan sebagai bahan fermentasi kata Tia semua pisang yang enak untuk dimakan yang rasanya manis seperti pisang ambon, pisang sere, pisang raja, dan pisang susu. Karena yang dibutuhkan adalah gula yang terdapat pada pisang untuk fermentasinya. Dan bukan hanya isinya saja tapi utuh beserta kulitnya juga. Aplikasi Palata sangat mudah, tinggal dituangkan kedalam wadah. “Inovasi ini memudahkan para pengrajin tahu, kita upayakan supaya posisinya tidak berubah jadi tidak ada kesulitan,” pungkasnya.(Foto : Andim)

Tags: , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: