Era Digital, APJII Cari Miss Internet Indonesia 2018

Mensosialisasikan program dan isu-isu berkaitan dengan internet, yaitu dengan cara konten pemilihan Miss Internet.
, Majalah Kartini | 15/01/2018 - 19:02


MajalahKartini.co.id – Pemilihan Miss Internet diharap bisa menginspirasikan wanita millenial di Indonesia untuk bisa memainkan peranan penting dalam pertumbuhan industri Internet di tengah-tengah masyarakat dan budaya Indonesia. Bahasa internet yang kadang sulit dicerna oleh masyarakat pada umumnya, merupakan tantangan tersendiri dalam mengampanyekan terkait dunia maya.

Sosok perempuan berwujud Miss Internet menjadi solusi persoalan tersebut. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) punya cara unik untuk menyoalisasikan program dan isu-isu berkaitan dengan internet, yaitu dengan cara konten pemilihan Miss Internet. Buat apa sih, dan apa bedanya dengan kontes yang lain?

Ketua Umum APJII Jamalul Izza mengatakan bahwa internet banyak bahasa teknis, yang sukar dimengerti masyarakat luas. Peran Miss Internet adalah menyederhanakan bahasa tersebut jadi lebih sederhana. Pembeda dari Miss Internet dengan kontes lainnya adalah isu yang dibahas hanya seputar internet. Keberadaan Miss Internet dapat membantu mengampanyekan program-program APJII dan pemerintah.

Sosok Miss Internet diharapkan dapat memasyarakatkan isu-isu internet dengan bahasa mudah, di mana selama ini internet dikenal dengan kalimat teknis.”Melalui tema yang diusung dalam pemilihan tahun ini, yakni Internet Kreatif yang bersih, selektif, aman, kami ingin menujukkan internet itu fleksibel. Maksudnya, meski internet bebas diakses tapi tetap ada etika dalam penggunaannya, jangan sampai kita bicara broadband tapi nggak sampai (diterima). Makanya tercetus ide Miss Internet pada 2013,” ujar Jamalul di Hotel Lemo, Tangerang Selatan, Rabu (11/1).

Jamalul menceritakan ide Miss Internet ini muncul di APJII regional Bali pada 2013. Saat itu,diselenggarakan seminar teknologi yang isinya teknis semua. Agar mudah penyampaiannya, mereka merekrut Public Relation yang kemudian bertransformasi jadi Miss Internet.Dinilai berhasil, kesuksesan tersebut akhirnya membawa konsep Miss Internet ini ke skala nasional untuk pertama kalinya pada 2017.

Marsya Gusman yang merupakan Miss Internet skala nasional pertama, merasakan betul menjalankan peran tersebut. Diketahui, pada 2013 lalu, konsep Miss Internet ini hanya untuk wilayah Bali saja, namun karena dinilai berhasil memasyarakatkan internet, maka ditingkatkan ke skala nasional pada tahun lalu.

Marsya juga berkesempatan menjadi pembicara di acara Social Media Week. Di sana ia, membahas tentang internet dengan pembicara dari Facebook dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

“Saya juga membicarakan soal tata kelola internet ketika berkunjung ke Google Asia Pasifik di Singapura. Sedangkan di Indonesia, ke daerah pelosok untuk penggunaan internet bersam. Tak hanya itu, Marsya yang terpilih sejak April 2017 ini mengajak anak muda untuk produktif di internet. Ia berkelana ke berbagai daerah di Indonesia, mulai kota sampai desa. Bangsa kita tidak boleh kalah dalam pemahaman era digital zaman now dengan negara-negara lainnya, waktu ke daerah, saya menemukan bahwa tidak hanya kota yang melek internet tapi di daerah juga punya pontensi yang besar sehingga pemerintah harus support,” kata Marsya.

Perempuan berambut panjang ini juga menceritakan dalam suatu kegiatannya pernah mengajak para ibu rumah tangga untuk memanfaatkan internet, untuk memasarkan produknya. “Hasilnya, mereka mulai beralih ke platform digital,” imbuhnya.

Hal itu dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang telah menggelar kompetisi pemilihan miss internet. Dan, sampai saat ini program tersebut berlanjut, di mana APJII mencari sosok Miss Internet generasi selanjutnya di tahun ini. Adanya Miss Internet tak hanya mempromosikan visi dan misi asosiasi, namun juga berkaitan dengan dunia siber, pendidikan tentang internet dan techno-preneurship. Pendaftaraan Miss Internet 2108 dilakukan secara online, di mana perempuan Indonesia dengan usia 17-25 tahun, tinggi minimum 160 cm, bisa bahasa Inggris dan familiar mengenai internet. Wanita yang memenuhi persyaratan bisa membuat vlog.

Pencarian finalis Miss Internet akan dihelat sesuai perwakilan APJII yang ada 12 kota, yaitu Medan, Batam, Balikpapan, Lampung, Bali, Pekanbaru, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bnadung, Jakarta dan Banten. Proses penyesisihan dilaksanakan awal September hingga Oktober 2018. Puncaknya akan dihelat di Jakarta, tepatnya di ICE BSD, Serpong, pada 3 November 2018. Nanti bila terpilih sebagai Miss Internet, akan mengemban tugas sebagai duta APJII selama satu tahun dan berhak menerima uang pembinaan dan juga hadiah dari beragam pendukung acara. (Foto : Istimewa)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: