Benarkah Pengambilan Keputusan Dipengaruhi Suasana Hati?

Orang cenderung terlibat dalam kegiatan yang tidak menyenangkan tapi harus dikerjakannya, seperti membayar tagihan atau melakukan pekerjaan rumah tangga.
, Majalah Kartini | 29/08/2016 - 22:00

james gross

MajalahKartini.co.id – Kegiatan tidak menyenangkan harus dilakukan ketika mereka berada dalam suasana hati yang baik dan memilih kegiatan yang menyenangkan sebagai cara untuk merasa lebih baik, dan ketika mereka berada dalam kondisi hati yang tidak bagus, demikian hasil penelitian oleh seorang prikolog di Standford University.

“Temuan tersebut menjelaskan bagaimana emosi membentuk prilaku dan bisa menjelaskan bagaimana manusia berbagi kegembiraan jangka-pendek untuk kesejahteraan jangka-panjang,” kata James Gross, Profesor Psikologi, sebagaimana dikutip Xinhua — Senin siang (29/8). Ia mempelajari emosi dan cara orang mengendalikan atau mengatur emosi mereka.

“Mengatasi persoalan semacam itu mungkin penting bagi kesejahteraan pribadi kita dan kelangsungan hidup kita sebagai spesies,” katanya. Dalam studi mereka, Gross dan rekan penelitinya menggunakan aplikasi telepon genggam untuk secara acak meneliti kegiatan dan suasana hati lebih dari 60.000 orang yang selama rata-rata 27 hari. Mereka mendapati suasana hati memainkan peran dalam cara orang membuat keputusan untuk menghabiskan waktu mereka setiap hari.

Gross dan penulis bersama studi mereka –yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences– menyebut kondisi itu “keluwesan hedonis” yang dinamis, terutama orang cenderung menggunakan suasana hati yang baik sebagai satu sumber, dan memungkinkan mereka mengatasi tantangan. Jadi, mereka menggunakan “daya” jangka-pendek untuk manfaat jangka-panjang, seperti tidur rutin, pekerjaan yang stabil dan bersih, lingkungan pribadi yang tertata baik; semuanya berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental yang baik.

Studi tersebut memperlihatkan “keluwesan hedonis” secara terus-menerus dipraktekkan dalam sejumlah pilihan harian yang dibuat oleh responden, seperti ketika suasana hati mereka aktif membantu mereka menghadapi barisan panjang, misalnya, di kantor pos dan toko.

Gross menyatakan kemampuan orang untuk mengungkit suasana hati “yang baik” untuk menyelesaikan tugas penting tapi tidak menyenangkan dan menggunakan suasana hati “yang buruk” untuk mengalami kegiatan yang menyenangkan mungkin memegang kunci bagi kebahagiaan dan kesejahteraan. Ia mengatakan penelitian itu menegaskan bagaimana emosi manusia membentuk prilaku dan mungkin membantu orang menjadi kurang memusatkan perhatian pada kesenangan jangka-panjang serta lebih memperhatikan kestabilan jangka-panjang.

“Bisa jadi mereka yang paling mampu mencapai keseimbangan kesehatan antara kesenangan dan ketidak-senangan lebih mungkin untuk menjalani hidup yang lebih menyenangkan dan lebih produktif,” katanya. Para peneliti itu percaya aplikasi telepon pintar yang digunakan untuk penelitian tersebut pada suatu hari mungkin terbukti bermanfaat sebagai alat “penanganan sendiri” buat orang untuk mengerjakan daftar “pekerjaan” mereka dengan landasan suasana hati mereka. Segera setelah aplikasi itu sepenuhinya diuji-coba, sasarannya ialah membuatnya tersedia untuk diunduh masyarakat. (ANT/Foto: Youtube)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: