Aplikasi Ridesharing Bisa Kurangi Kemacetan di Jakarta

Dengan sistem berbagi tumpangan dinilai bisa mengurangi 2,5 juta mobil di jalan dan mengurangi kemacetan di Jakarta, serta membebaskan lahan parkir setara dengan 14.600 lapangan sepakbola.
, Majalah Kartini | 01/11/2017 - 19:02

MajalahKartini.co.id – Penelitian yang dilakukan di wilayah Asia menunjukkan bahwa kemacetan,masalah parkir, dan terlewatkannya acara penting telah membuat warga memikirkan ulang kepemilikan mobil pribadi, dan mempertimbangkan konsep berbagi tumpangan (ridesharing).  Tiap tahun, warga di Asia kehilangan 13 hari dalam setahun karena terjebak kemacetan. Warga Jakarta membuang 22 hari dalam setahun karena macet dan mencari parkir.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang menghadiri rilis survei tersebut menyayangkan betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. “Bayangkan, 22 hari itu sama dengan cuti dua tahun,” kata Sandiaga. Untuk itu, Sandi merespon positif kampanye #UnlockJakarta yang digagas Uber. Kampanye itu mendorong aplikasi ridesharing (berbagi tumpangan) seperti Uber lebih banyak dimanfaatkan warga dengan harapan dapat berkontribusi mengurangi macet.

Sandiaga mengatakan, terobosan semacam itu bisa jadi solusi permanen kemacetan. “Bayangkan 22 hari ini sangat berharga kalau kita bisa lakukan kegiatan dengan orang yang kita cintai. Hal itu menurut saya sangat krusial bagi kita untuk menghadirkan sebuah sistem transportasi massal sebagai solusi permanen,” ujarnya.

Analisa Uber menunjukkan, orang yang menggunakan transportasi online lebih mungkin beralih dari kendaraan pribadi dan mengombinasikan perjalanan pribadinya dengan transportasi massal, seperti bus dan kereta. The Boston Consulting Group memperkirakan 60 persen dari kendaraan pribadi saat ini di jalanan Jakarta dapat berkurang jika ridesharing menjadi pengganti alternatif dari kepemilikan kendaraan pribadi dan carpooling (saling berbagi perjalanan) menjadi hal biasa. Hal ini akan mengurangi 2,5 juta mobil di jalan dan mengurangi kemacetan di Jakarta, serta membebaskan lahan parkir setara dengan 14.600 lapangan sepakbola.

John Colombo menambahkan jika Ridesharing juga dilihat sebagai alternatif yang dipilih untuk menambah penghasilan. Kajian ini menunjukkan bahwa para pemilik mobil di Jakarta cenderung lebih memilih aplikasi berbagi tumpangan untuk menambah penghasilan. 27 persen pemilik mobil mengaku sangat ingin, sementara 44 persen responden mengaku ingin menggunakan aplikasi berbagi tumpangan untuk menambah penghasilan.”

Didukung oleh temuan-temuan hasil penelitian tadi, Uber juga menyoroti absurditas masalah kemacetan dalam sebuah film singkat sebagai bagian kampanye​ ​#UnlockingCities, sebuah  inisiatif untuk menyoroti mendesaknya solusi masalah kemacetan dan parkir serta bagaimana warga dan solusi inovatif seperti ridesharing punya peran untuk membuka potensi kota-kota dengan berbagi sumber daya.
Rangkaian kampanye ini berupa sejumlah aktivitas yang membuka mata, di antaranya peluncuran film singkat “Boxes”, temuan hasil kajian the Boston Consulting Group dan presentasi hasil riset konsumen Uber di sejumlah pasar utama di Asia Pasifik, peluncuran sebuah website yang didedikasikan sebagai referensi bagi warga terkait penelitian ini, dan berbagai aktivitas online dan offline.

Dengan menggunakan kotak kardus untuk menggambarkan mobil, film singkat berdurasi 90 detik tersebut secara jenaka menunjukkan realitas bagaimana masyarakat bermobilitas saat ini, dan diakhiri dengan gambaran bagaimana kota dipenuhi dengan kotak-kotak kardus. Pengambilan gambar dilakukan di jalanan di kota Bangkok dengan 200 pemeran, dengan soundtrack “Bare Necessities” dari film Disney tahun 1967 “The Jungle Book”.

kajian The Boston Consulting Group juga menunjukkan bahwa dukungan dari pemerintah diperlukan bagi kota-kota untuk mendapat manfaat penuh dari konsep berbagi tumpangan. Pembatasan, seperti pembatasan penggunaan aplikasi untuk secara dinamis menyeimbangkan suplai dan permintaan serta menyediakan opsi transportasi; pembatasan kuota kendaraan; dan pembatasan biaya; dapat menghalangi diadopsinya konsep ridesharing secara lebih luas dan membatasi manfaat ridesharing bagi sebuah kota.

“Ridesharing atau konsep berbagi tumpangan bisa menjadi pelengkap penting untuk transportasi publik sebagai bagian dari solusi mengatasi kemacetan dan mengurangi kebutuhan lahan parkir. Dengan mengangkut lebih banyak orang dengan jumlah mobil
yang lebih sedikit, kita bisa memaksimalkan potensinya, tapi kita harus melakukannya bersama-sama,” ujar John Colombo. (Foto: Doc Pribadi&Tempo)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: