Serba Serbi Kanker Payudara yang Penting Diketahui

Kanker bisa merusak struktur sel sehat di sekitarnya dan mencuri sebagian besar nutrisi yang ada di tubuh.
, Majalah Kartini | 02/02/2018 - 13:12

MajalahKartini.co.id – Fakta di Indonesia pemahaman masyarakat umum mengenai kanker payudara masih sangat rendah hal ini terbukti, sebanyak 70 persen pasien kanker payudara datang berobat pada stadium lanjut lokal atau lanjut. Tumor/kanker merupakan benjolan di bagian tubuh, disebabkan adanya pertumbuhan sel, dapat bersifat jinak ataupun ganas (kanker).

dr. M. Yadi Permana, Sp. B (K) Onk
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) menjelaskan, pertumbuhan sel yang tidak terkontrol, terus-menerus, merusak jaringan setempat dan dapat menyebar ke tempat lain dan mengakibatkan kematian. Kanker bisa merusak struktur sel sehat di sekitarnya dan mencuri sebagian besar nutrisi yang ada di tubuh. Pertumbuhan pesat sehingga lebih sulit dibasmi.

“Pencegahan dan deteksi dini adalah hal yang sangat penting. Hal pertama yang harus diingat dan diwaspadai adalah kanker payudara sangat jarang menyebabkan nyeri. Jika ditemukan luka/borok itu artinya sudah stadium lanjut,” jelasnya pada duskusi “Serba Serbi Kanker Payudara” di Jakarta, Senin (29/1).

Sehingga kata dr. M. Yadi sangat penting kenali faktor risiko. Adapun faktor risiko kanker payudara yakni apabila ada riwayat keluarga dari garis ibu menderita kanker payudara. Kedua, usia menopause terlambat (lama mengalami menstruasi lebih dari 30 tahun), riwayat radiasi untuk pengobatan di daerah dada. Tidak pernah mengalami kehamilan yang lengkap (full term).

Usia menstruasi pertama kali sangat muda, usia saat pertama kali hamil lebih dari 35 tahun, tidak pernah menyusui bayi, berat badan berlebih, menggunakan alat kontrasepsi hormonal pada wanita dengan resiko kanker payudara dan menggunakan terapi hormonal setelah menopause juga merupakan faktor risiko kanker payudara.

“Faktor risiko dapat diubah riwayat kehamilan, oral kontrasepsi, terapi sulih hormon, alkohol, obesitas, dan menstruasi pertama (merache). Sedangkan yang tidak dapat diubah seperti riwayat keluarga, genetik, siklus menstruasi, riwayat kanker lain sebelumnya, dan sia,” lanjutnya.

Dari hasil penelitian, lemak tidak meningkatkan risiko, namun tetap harus dibatasi agar IMT (Indeks Massa Tubuh) tidak melebihi kisaran ideal, tidak berhubungan dengan konsumsi daging merah, daging putih dan susu. Karbohidrat juga tidak sepenuhnya harus dihindari tapi tetap dibatasi agar tidak berlebihan di tubuh dan diubah menjadi sel lemak.

“Kadar fitoestrogen pada kedelai dapat mengurangi kekambuhan dan konsumsi buah dan sayur dapat menurunkan risiko kanker payudara, terutama sayuran hijau,” kata dr. M.Yadi.

Kanker payudara dapat dikenali dari benjolan. Benjolan adalah gejala yang paling sering muncul tapi pada kanker payudara, benjolan terasa sangat keras dengan permukaan yang tidak rata. Benjolan biasanya tidak bergerak (terfiksasi) dan seringkali benjolan tidak disertai nyeri.

Kanker payudara juga dapat dikenali dari perubahan pada kulit payudara yakni kulit disekitar payudara dapat berwarna kemerahan, kadang terdapat cekungan seperti lesung pipi di kulit payudara (dimpling). Pada keadaan lanjut, cekungan pada kulit payudara ini semakin meluas dan banyak sehingga kulit payudara tampak seperti kulit jeruk purut (peau d’orange).

Selain itu, terjadi perubahan pada puting payudara biasanya luka pada puting payudara yang tidak sembuh selama enam bulan disertai perunahan kulit payudara. Keluar cairan merah/kecoklatan dari puting payudara, puting yang tadinya normal menjadi tertarik ke dalam (nipple inversion). Dan kulit puting terasa gatal, terdapat kulit yang menebal dan berubah warna, teraba adanya benjolan di balik puting.

“Keterlambatan diagnostik disebabkan ketidaktahuan pasien (patient delay), ketidaktahuan dokter/tenaga medis (doctor delay), dan keterlambatan rumah sakit (hospital delay),” ujarnya.(Foto : Istimewa)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: