Tak Pernah Mimpi Jadi Model, Patricia Gouw Lolos Asia’s Next Top Model

Tidak terpikirkan berkecimpung di dunia modelling, seiring berjalannya waktu, Patricia semakin cinta profesi model.
, Majalah Kartini | 20/02/2018 - 09:02

MajalahKartini.co.id – Bicara dunia modeling, diakui Patricia bahwa profesi itu jauh dari pikirannya ketika masih sekolah. “Nggak pernah bermimpi jadi model, apalagi mama aku bukan tipe perempuan yang hobi dandan, jadi sama sekali dalam keluarga tuh nggak ada yang jadi inspirasi aku buat menjadi model atau berkiprah di dunia hiburan,” jelasnya.

Pat, sapaan akrabnya, bercerita bahwa kedua orang tuanya sudah mendidiknya dari kecil dengan penuh kedisiplinan. “Nggak ada tuh kata manja, jadi dari SD saja, aku sudah jualan alat tulis ke sekolah. Kata orang tua, kalau mau tambahan uang jajan, ya harus mengerjakan sesuatu atau usaha. Jadi, ya dari kecil aku sudah belajar bisnis,” ceritanya diiringi tawa.

Hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Pat sudah terbiasa mencari uang jajan tambahan dengan melakukan beragam kegiatan, “Karena uang jajan dari orang tua kan pas-pasan banget, nggak bisa buat gaul dengan teman-teman. Jadi, ya aku harus cari uang jajan tambahan, waktu SMP dan SMA aku ikut tim dance dan sering tampil dan dapat uang deh,” jelas Pat semangat.

Ketika ditanya kapan pertama kali berpengalaman jalan sebagai model, Pat menceritakan dengan penuh antusias, “Kalau pertama kali jalan sebagai model, waktu SMA, aku kan sekolah di sekolah pariwisata, jadi setiap hari sudah terbiasa memakai sepatu heels. Kalau teman-teman cuma pakai yang setinggi 3-5 cm, kalau aku sudah yang 7 cm. Teman-teman biasanya bawa sepatu ganti agar tidak capek, kalau aku tidak. Aku selalu pakai sepatu heels aku itu saat di sekolah, pulang sekolah naik bus, bahkan ketika dihukum karena telat juga aku lari keliling sekolah memakai sepatu heels 7 cm,” ujarnya sambil tertawa lepas.

“Nah, karena di sekolah sudah terkenal piawai memakain sepatu heels, maka ketika ada lomba ajang modeling antar sekolah, semua teman-teman dan guru menyuruh aku ikutan. Alhasil, aku ikutan. Di situlah aku pertama kali jalan ala model,” kenangnya. Selanjutnya, Pat mendapat tawaran menjadi model untuk trunk show sebuah brand pakaian. “Nah, pas jalan untuk brand ini, baru lah aku pertama kali dibayar sebagai model beneran,” tandas Pat.

Keikutsertaan Pat menjadi model ketika itu, diakuinya bukan karena passion melainkan karena mencari uang. “Aku kepikirannya ya buat cari uang tambahan aja, nggak berobsesi nanti bisa jadi model terkenal, nggak seperti itu,” ungkapnya. Bahkan ketika ia ikut ajang pencarian model Gading Model Search dan berhasil masuk hingga babak final, tujuan utama Pat juga untuk mencari tambahan uang jajan.

Lulus SMA, Pat memutuskan melanjutkan kuliah ke Australia, kemudian ia kembali lagi ke Jakarta dan lanjut aktif mengikuti berbagai ajang pemilihan model. Seiring berjalannya waktu, Pat menjadi semakin cinta profesi model. “Seperti orang bilang, tak kenal maka tak sayang, sekarang setelah sudah kenal, ya jadi makin sayang. Modeling sudah menjadi bagian dari diri aku sekarang. Tetapi tetap cita-cita aku bukan model. Menurutku profesi model tidak bisa untuk jangka panjang. Aku ingin kelak menjadi pengusaha, sedangkan di dunia hiburan aku ingin lebih fokus di bidang presenting,” tandas Pat. Tak heran, kini wajahnya kian sering muncul di televisi dalam memandu program acara. “Selain presenter di acara TV, aku juga sibuk MC di berbagai acara off air.”

Setelah cukup lama berkecimpung di dunia modeling, seorang sahabatnya mendorong Pat untuk ikut Asia’s Next Top Model (ANTM), awalnya Pat enggan dan tidak mau ikut ajang pemilihan model tingkat Asia tersebut. “Malas dibilang banci tampil, ikut kontes melulu, tetapi sahabatku itu tiap hari ganggu aku agar aku mau ikutan ANTM. Alhasil, aku daftar,” tuturnya.

Untuk mengikuti jadwal casting ANTM pun penuh perjuangan dalam hidup Pat. “Bayangin saja ya, di hari itu berbarengan dengan jadwal aku nge-MC di sebuah acara, barengan juga dengan nikahan sahabatku di mana aku diminta jadi bridesmaid. Puji Tuhan, aku diberi jalan dan kemudahan ketika casting sehingga aku masih bisa memburu waktu untuk hadir di dua acara selanjutnya pada hari itu,” cerita Pat.

Ikut casting tanpa beban dan tanpa harapan tinggi, tak disangka Pat justru lolos mewakili salah satu peserta dari Indonesia. “Jelas senang pas mengetahui lolos, tapi juga bingung, karena nggak tahu nanti bagaimana di sana. Bahkan aku nggak pernah nonton acara itu, lho. Jadi sehari sebelum berangkat, aku baru nonton satu episode saja dan tidak sampai habis,” kenangnya sambil tertawa. (Foto: Majalah Kartini)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: