YLKI Rilis 6 Biro Umrah Paling Banyak Aduan

Masyarakat jangan tergiur oleh iming-iming tarif murah atau tarif promo dari biro umrah.
, Majalah Kartini | 11/06/2017 - 10:04

YLKI-Rilis-6-Biro-Umrah-Paling-Banyak-Aduan

MajalahKartini.co.id – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kebanjiran pengaduan calon jamaah umrah yang belum atau gagal berangkat. Terhitung per 6 Juni 2017, YLKI menerima 6.778 pengaduan calon jamaah umrah dari 6 (enam) biro umrah. Enam biro umroh tersebut, yakni First Travel 3.825 pengaduan, Hannien Tour 1.821 pengaduan, Kafilah Rindu Ka’bah 954 pengaduan, Komunitas Jalan Lurus 122 pengaduan, Basmalah Tour and Travel 33 pengaduan, Zabran dan Mila Tour 24 pengaduan.

Dikatakan Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/6), jumlah biro umrah di Indonesia terus menjamur. Namun, biro yang hanya mengantongi izin dari Kementerian Agama (Kemenag) hanya 770-an biro. Menurutnya hal itu belum dengan biro yang belum terdaftar. “Tragisnya, biro umrah yang berizin itu bukan berarti kinerjanya baik,” tutur dia.

Lebih lanjut, Tulus mengatakan, sudah terbukti saat ini lebih dari 100 ribuan calon jamaah umrah masih mangkrak, belum diberangkatkan. Diketahui dia juga, bahwa itu baru satu biro. Bahkan, sebagian besar yang bermasalah itu tidak ingin membatalkan dan ingin refund. “Tapi dipersulit oleh pihak biro umrahnya denga nberbagai alasan,” ujar Tulus.

Maka dari itu, dengan tingginya permasalahan itu, YLKI menghimbau masyarakat yang ingin melakukan perjalana umrah tidak mendaftar lebih dahulu kepada biro umrah “bermasalah”, dengan indikasi banyaknya pengaduan jamaah yang belum atau gagal berangkat. Biro umrah semacam itu merugikan calon jamaah, baik kerugian materiil maupun imateriil.

“Masyarakat jangan tergiur oleh iming-iming tarif murah atau tarif promo dari biro umrah. Sebab biro umrah diduga tengah mengeruk dana masyarakat, dan dana itulah yang akan digunakan untuk memberangkatkan ribuan calon jamaah yang masih mangkrak,” ucap Tulus.

Terjadinya hal seperti itu, dikatakan tulus, karena biro umrah menggunakan sistem “gali lubang tutup lubang” untuk memberangkatkan jamaahnya (“sistem ponzi”). Di mana, masyarakat yang sekarang mendaftar berisiko mengalami nasib serupa (gagal berangkat) di kemudian hari. “Seharusnya, jika biro umrah memang mempunyai itikad baik, maka promosi besar-besaran untuk menggaet calon jamaah baru dihentikan lebih dahulu, sampai calon jamaah yang masih mangkrak diberangkatkan,” kata dia.

Anehnya, kata Tulus menambahkan, Kementerian Agama sebagai regulator membiarkan hal tersebut. Seharusnya Kemenag menghentikan promosi dari biro umrah, yang terbukti ingkar janji pada calon jamaahnya. Tulus juga mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah mengajukan pangaduan ke pihak Kemenag, sayangnya walau sudah 2 (dua) minggu lebih (24/5) belum ada direspon.

“Jika dalam satu minggu ke depan Kemenag belum merespon pengaduan YLKI dimaksud, maka YLKI akan mengadukan Kemenag ke Ombudsman RI. Pejabat publik/institusi pemerintah yang tidak merespon pengaduan/tidak menjawab surat dari masyarakat, bisa dikategorikan sebagai malpraktik birokrasi,” tutur Tulus. (Foto: Umroh.travel)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: