Siswi di Semarang Tak Naik Kelas Karena Seorang Penganut Kepercayaan

ZNR menolak untuk melakukan ujian salat meskipun telah mengikuti pelajaran agama Islam.
, Majalah Kartini | 19/08/2016 - 16:00

MajalahKartini.co.id – ZNR, pelajar SMK Negeri 7 Semarang terpaksa tidak dapat naik ke lelas XII karena tidak mengikuti praktik salat dalam pelajaran Agama Islam karena dirinya adalah penganut kepercayaan. Siswi berusia 17 tahun itu dikenal sebagai pribadi yang pintar dan ramah. Hampir keseluruhan nilai pelajarannya A-B dan hanya satu mata pelajaran yang mendapat nilai C.

Menurut Sekjen Satgas Perlindungan Anak (Satgas PA) Ilma Sovri alasan pihak sekolah tidak menaikkan ZNR karena ia tak mau mengikuti ujian salat, meskipun ia telah melalui ujian-ujian teori agama Islam.

“Ini bukan soal seorang anak harus mengalah karena agama minoritas. Ini soal kebijakan diskriminatif. Ratusan hingga ribuan anak penghayat yang pernah alami ini merespon dengan mengalah. Tapi ZNR tidak. Ia hanya mau percaya bahwa ini negara yang tidak diskriminatif karena agama,” kata Ilma saat dihubungi di Jakarta, Jumat (19/8).

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengeluarkan Permendikbud tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Pada Satuan Pendidikan. Namun menurut Ilma pihak kepala sekolah dan Kanwil Dikbud setempat menampik peraturan itu.

“Alasannya tidak berlaku surut untuk seorang ZNR. Di satu sisi kita biasa punya budaya membantu anak-anak orang lain bisa sekolah dengan budaya orangtua asuh, ngenger dan lain-lain. Dalam kasus ZNR, mereka seolah berjamaah mengeroyok seorang anak di bawah umur tidak bisa naik kelas karena alasan prinsipil yang seharusnya diinformasikan,” ujarnya.

Sebagai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, lanjut Ilma, seharusnya ZNR tidak lagi harus memilih salah satu mata pelajaran agama tetapi bisa memilih mata pelajaran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ia menyampaikan sejumlah sekolah di beberapa daerah telah menerapkan kurikulum agar pelajar penganut kepercayaan mendapatkan mata pelajaran tersebut.

“Hal ini sudah dilakukan oleh sekolah-sekolah di beberapa daerah, yang menyerahkan mata pelajaran kepercayaan dan penilaiannya kepada kelompok atau organisasi yang dipilih oleh orangtua siswa dan disetujui oleh sekolah,” jelasnya. (Foto: Notthingham.com)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: