Setiap Tahun, Ratusan Bayi Meninggal di Tangerang

Tingginya kasus kematian ibu dan bayi dinilai sangat meresahkan. Apalagi Kabupaten Tangerang adalah daerah urban.
, Majalah Kartini | 17/11/2016 - 10:30

MajalahKartini.co.id – Kabupaten Tangerang menyumbang angka kematian ibu bersalin dan bayi baru lahir tertinggi di Banten. Tahun 2015, jumlah kematian ibu mencapai 52 dan 334 kematian bayi. Sedangkan hingga September 2016, tercatat 48 kematian ibu dan 209 kematian bayi.

“Tingginya kasus kematian ibu dan bayi, sangat meresahkan. Apalagi Kabupaten Tangerang adalah daerah urban,” Kata Bupati Ahmed Zaki Iskandar, melalui siaran pers yang diterima Rabu (16/11). Pihaknya terus berupaya melakukan terobosan untuk menekannya, termasuk menaikkan anggaran hingga Rp 3,4 miliar.

Sejak 2014, Kabupaten Tangerang mendapat pendampingan dari Program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) untuk menekan kasus kematian ibu dan bayi. EMAS merupakan sebuah program penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir dari Kementrian Kesehatan RI yang didanai USAID.

Program EMAS dilaksanakan di 30 kabupaten/kota di Indonesi. Konsentrasi kegiatan pada peningkatan kualitas pelayanan maternal dan neonatal serta menguatkan sistem rujukan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

Terkait peningkatan kualitas pelayanan maternal dan neonatal Kabupaten Tangerang tak hanya menjalankan program EMAS yang dibuktikan dengan meningkatkan kapasitas bidan dan Puskesmas dalam melayani persalinan. Tangerang juga menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 128 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelayanan Rujukan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal di Kabupaten Tangerang.

Saat ini, dari 44 Puskesmas yang ada, 33 diantaranya sudah mampu melayani persalinan dan ditetapkan sebagai Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatus Esensial Dasas. Tahun depan, seluruh Puskesmas di kabupaten ini ditargetkan mampu memberikan pelayanan PONED.

Menghadapi kondisi kegawatdaruratan, seluruh Puskesmas dan Bidan Praktik Mandiri berjejaring dengan RSUD dan 21 rumah sakit swasa di Kabupaten Tangerang, termasuk yang bertaraf internasional, guna menyelamatkan proses persalinan.Kabupaten Tangerang juga melakukan inovasi layanan melalui Program Bergandengan Tangan Menyelamatkan Ibu dan Bayi Baru Lahir di Kabupaten Tangerang.

Pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan, rumah sakit pemerintah maupun swasta, Puskesmas, BPJS, PMI, organisasi profesi, organisasi masyarakat dan lainnya berkomitmen mensukseskan gerakan ini. Sistem rujukan dibagi dalam tiga wilayah rujukan yakni wilayah Barat, Selatan dan Utara.

Zonasi tersebut berdasarkan kepadatan penduduk, keberadaan rumah sakit rujukan, serta kemampuan tenaga dan peralatan rumah sakit. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Naniek Isnaini mengatakan, ide zonasi tersebut guna menghindari terjadinya “hospital tour”. Hospital tour artinya situasi pasien ibu hamil dalam kondisi gawat darurat ketika dirujuk ke rumah sakit harus melalui beberapa rumah sakit karena ketidaksiapan rumahsakit rujukan.

“Saya sedih, sebelumnya ada ibu hamil harus dirujuk ke 4-7 rumah sakit karena tiadanya kepastian informasi rumah sakit rujukan yang siap,” kata Naniek. Dengan donasi, ibu hamil yang dirujuk sudah mendapatkan kesiapan rumah sakit rujukan yang akan menerima.

Alur kerja proses rujukan melalui telepon genggam seluruh bidan terhubung dengan server Public Service Center yang ada di seluruh rumah sakit dan Kantor Dinas Kesehatan. Saat hendak merujuk ibu hamil, bisa mengirimkan pesan singkat ke server yang berisi data pasien, kondisi pasien, asuransi kesehatan serta informasi relevan lainnya.

Petugas server PSC akan akan segera menjawab rumah sakit mana yang siap menerima. Jika seluruh rumah sakit di Kabupaten Tangerang penuh, kerjasamatelah dilakukan dengan RSUD Kota Tangerang dan RSUD Tangerang Selatan. Atas inovasi tersebut, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menganugerahi penghargaan Top 35 SINOVIK (Sistem Inovasi Pelayanan Publik).

Tahun ini terdapat 2.476 inovasi yang diusulkan mendapatkan penghargaan. Dari jumlah tersebut disaring menjadi 99 finalis untuk kemudian ditetapkan menjadi 35 yang menerima penghargaan. Beberapa daerah mereplikasi program ini seperti Kabupaten Serag, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan kota Cilegon.

Chief of Party Program EMAS Indonesia Nancy Caiola mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tangerang menunjukkan komitmen dalam upaya penyelamatan ibu dan anak. “Meski Program EMAS telah selesai, Kabupaten Tangerang bersedia melanjutkan program ini dengan dana mandiri,” ujarnya. Tak hanya melanjutkan, tutur Nancy, Kabupaten Tangerang juga menyempurnakannya dengan inovasi kebijakan yang menginspirasi daerah lain untuk menirunya. (Ndari Sudjianto/Foto: Pemkab Tangerang)

 

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: