Satu dari Tiga Perempuan Pernah Alami Kekerasan

Perlindungan terhadap perempuan merupakan upaya untuk melindungi hak asasi perempuan.
, Majalah Kartini | 12/04/2017 - 10:09

Satu dari Tiga Perempuan Pernah Alami Kekerasan

MajalahKartini.co.id – Setidaknya satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun atau sekitar 28 juta orang pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual, baik dilakukan oleh pasangan maupun bukan pasangannnya. Hasil Survey Pengalaman Hidup Perempuan Tahun 2016 ini disampaikan oleh Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Vennetia Danes, pada pelaksanaan Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Perlindungan Hak Perempuan Tingkat Nasional Tahun 2017.

“Tidak hanya itu, hasil survey ini juga menunjukkan bahwa satu dari setiap empat perempuan yang pernah/sedang menikah pernah mengalami kekerasan ekonomi oleh pasangannya, antara lain tidak boleh bekerja, tidak diberikan uang belanja, dan diambil uang/penghasilannya tanpa persetujuannya. Kemudian satu dari lima perempuan yang pernah/sedang menikah juga mengalami kekerasan, emosional/psikis oleh pasangannya, antara lain dihina, diintimidasi, dan dipermalukan di depan orang lain,” tambah Vennetia.

Hasil survey tersebut selaras dengan data Catatan Tahunan Komnas Perempuan dimana di tahun 2015 tercatat terdapat 11.207 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Disamping itu tercatat pula terdapat 321.757 kasus kekerasan terhadap perempuan dimana 72,15%nya adalah tindak perkosaan. “Untuk itu seluruh data ini harus dimaknai bahwa perlindungan terhadap hak perempuan harus menjadi prioritasutama seluruh komponen bangsa,” katanya.

Hal ini terang Vennetia bukan lagi hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar kasus kekerasan terhadap kaum perempuan tidak semakin bertambah setiap tahunnya. “Perlindungan hakperempuan merupakan kegiatan lintas sektor dimana peran serta para pemangku kepentingan baik Kementerian/Lembaga seperti Kepolisian, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Pemerintah Daerah, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha, Akademisi, dan Media sangat menentukan keberhasilan dari pelaksanaan perlindungan tersebut,” terang Vennetia.

Keterlibatan seluruh komponen bangsa adalah tujuan utama yang dikedepankan dalam Rakortek Perlindungan Hak Kaum Perempuan Tingkat Nasional Tahun 2017. Rakortek ini melibatkan setidaknya 375 orang peserta dari unsur Kementerian/Lembaga, serta Dinas PPPA baik di provinsi maupun di Kabupaten/Kota. Rakortek ini menghadirkan ragam narasumber baik dari pusat maupun daerah yang membahas terkait isu perlindungan hak perempuan dan juga best practice dari beberapa wilayah di Indonesia. Para peserta pun dilibatkan secara aktif dalam berdiskusi dan berdialog seputar strategi perlindungan hak perempuan baik di pusat maupun daerah.

Perlindungan terhadap perempuan merupakan upaya untuk melindungi hak asasi perempuan, terutama untuk memberikan rasa aman dalam pemenuhan haknya dengan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematik yang ditujukan untuk mewujudkan kesetaraan gender. Hal ini tentunya sejalan dengan hak setiap warga negara untuk dapat menikmati dan berpartisipasi dalam pembangunan di berbagai bidang.

“Saya berharap melalui Rakortek Perlindungan Hak Perempuan ini, dapat mewujudkan komitmen pusat dan daerah dalam upaya perlindungan hak perempuan, mulai dari percepatan, penanganan dan pemberdayaan. Selain itu, garis komunikasi, koordinasi, integrasi serta sinergi antar pusat dan daerah pun semakin kuat terjalin, sehingga perlindungan hak perempuan pun dapat terlaksana secara komprehensif,” ungkap Vennetia. (Foto : Ilustrasi/Kompas)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: