Pernikahan Dini dan Kesehatan Reproduksi Jadi Masalah Remaja Perempuan

Angka median masalah pernikahan dini dan kesehatan reproduksi setiap tahun semakin meningkat.
, Majalah Kartini | 22/08/2016 - 14:00
hari-remaja

MajalahKartini.co.id – Data proyeksi Bappenas dan BPS menyebutkan pada 2020-2035 komposisi penduduk Indonesia akan diisi oleh tenaga kerja produktif yang sangat berlimpah. Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty meski memiliki sumber daya manusia yang banyak, masih banyak permasalahan yang harus dihadapi remaja di Indonesia.

Surya mengungkapkan, masalah pertama yang masih harus dihadapi remaja adalah mengenai isu pernikahan dini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka pernikahan secara nasional mengalami peningkatkan dari 19,8 persen pada Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menjadi 20,1 persen pada SDKI 2012.
Lebih jauh lagi, proporsi remaja berusia 15-19 tahun yang sudah melahirkan dan hamil anak pertama meningkat 8,5 persen (SDKI 2007) menjadi 9,5% (SDKI 2012). Masalah kedua yang masih akan dihadapi para remaja adalah mengenai kesehatan produksi. Berdasarkan data Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI 2007), terdapat kecenderungan kenaikan proporsi remaja berusia 15-24 tahun yang aktif secara seksual.
Semakin meningkatnya perilaku seksual remaja di luar nikah membawa dampak yang sangat berisiko, yakni terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan, setiap tahun tercatat ada sekira 1,7 juta kelahiran dari perempuan berusia di bawah 24 tahun, yang sebagian adalah kelahiran yang tidak diinginkan.
Untuk menghadapi masalah tersebut, Surya menuturkan pihaknya telah memiliki program Generasi Berencanan (GenRe) yang salah satu programnya mengulas tentang pemberian edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja sejak SMP.
“Kita berharap para remaja menyadari kapan akan menyelesaikan pendidikan, kapan akan bekerja, dan kapan akan memutuskan menikah. Jadi menikah harus terencana, jangan menikah sebelum usia 21 tahun,” ujar Surya saat seminar memperingati Hari Kependudukan Dunia di Jakarta, Senin (22/8).
Ia melanjutkan, apabila perempuan memutuskan menikah sebelum berusia 21 tahun, sel-sel fungsi keperempuanan mereka belum siap untuk menghasilkan anak-anak yang berkualitas. Karena, kata Surya, pertumbuhan sel-sel otak anak dimulai sejak masa kehamilan hingga berusia tiga tahun. “Jadi pengendalian kuantitas penduduk itu langsung dibarengi dengan peningkatan kualitas penduduk,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuand dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Yohana Yembise yang turut hadir dalam seminar tersebut mengatakan, program GenRe sejalan dengan program Kota Layak Anak (KLA) yang dijalankan oleh Kementerian PP dan PA.
“Program GenRe dapat diintegrasikan dengan program KLA yang didalamnya juga ada program Kampung Layak Anak. Ini sejalan juga dengan GenRe yang didalamnya ada Kampung KB,” kata Yohana. (Foto: Muhammad Meisa)

Tags: , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: