Penyataan Sikap AJI Soal Intimidasi dan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Aksi 212

Ada lima poin yang disampaikan AJI dalam penyataan sikapnya.
, Majalah Kartini | 03/12/2016 - 22:00

MajalahKartini.co.id РAliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam keras atas terjadinya kasus intimidasi dan kekerasan yang diterima oleh beberapa jurnalis yang meliput aksi unjuk rasa super damai yang berlangsung kemarin (2/12).  Melihat kasus-kasus intimidasi dan kekerasan menimpa jurnalis tersebut AJI jakarta menyatakan :

1. Mengecam keras intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh massa demo 212 terhadap jurnalis Metro TV dan oleh anggota kepolisian terhadap jurnalis RCTI. Selain bisa dijerat dengan pasal pidana KUHP, intimidasi dan kekerasan tersebut bisa dijerat Pasal 18 Undang-Undang Pers karena meraka secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi kemerdekaan pers dan kerja-kerja jurnalistik. Ancaman hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

2. Mendorong manajemen Metro TV dan RCTI untuk melaporkan kasus intimidasi dan kekerasan ini kepada kepolisian agar pelaku diadili. Selama ini, kekerasan terhadap jurnalis kerap berulang karena korban enggan melaporkan kasusnya ke kepolisian pada saat yang sama laporan yang sudah masuk jarang ditindaklanjuti oleh kepolisian. Karena itu, kami mendorong kepolisian untuk segara mengusut kasus-kasus kekerasan terhaddap jurnalis dan membawa pelakunya sampai pengadilan. Proses hukum ini penting agar ada pembelajaran bagi masyarakat bahwa mengintimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis adalah melawan hukum.

3. Mengimbau Metro TV, yang menggunakan frekuensi publik, untuk tetap memproduksi siaran berita yang independen, berimbang, akurat, dan berpegang teguh kepada kode etik dan pedoman perilaku penyoaran dan standar program siaran (P3 dan SPS) Komisi Penyiaran Indonesia. Dalam kasus Metro TV, pada unjuk rasa 4 November lalu, ada juga jurnalisnya yang diintimidasi oleh demonstran yang tidak senang dengan berita televisi ini. Karena itu, redaksi Metro TV perlu juga introspeksi mengapa menjadi sasaran kemarahan demonstran. Pengelolah televisi perlu diingatkan bahwa jurnalisme bertumpu kredebilitas media dan kepercayaan penonton.

4. Menghimbau semua pimpinan redaksi dan petinggi media untuk memperlihatkan keselamatan dan keamanan jurnalisnya di lapangan yang meliput unjuk rasa atau liputan di daerah yang berpotensi konflik. Para repoter dan juru kamera adalah garda terdepan dalam proses produksi berita. Keamanan dan keselamatan mereka harus diutamakan. Manajemen media harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keamanan jurnalisnya yang sednag bertugas.

5. Mendesak Dewan Pers dan KPI untuk lebih ketat mengawasi dan menegur stasiun televisiu yang beritanya dinilai menabrak kode etik dan pedoman penyiaran.(Foto: adweek.com)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: