Modus Pengemis Perempuan Ngesot di Jakarta Terbongkar

Pengemis tersebut berpura-pura ngesot atau tak bisa berjalan untuk menarik simpati pengunjung pasar.
, Majalah Kartini | 16/11/2016 - 14:00

MajalahKartini.co.id – Seorang pengemis bernama Adriana, 40 tahun, dijaring Dinas Sosial Jakarta ketika melakukan aksinya di Pasar Mester Jatinegara, Jakarta Timur.  “Berdasarkan laporan masyarakat melalui media sosial twitter @DinsosDKI1 pengemis itu kerap kasar dengan warga yang ada di pasar tersebut,” kata Kepala Suku Dinas Sosial Kota Administrasi Jakarta Timur, Benny Martha, seperti yang dilansir situs resmi dinsos.jakarta.go.id, Selasa (15/11).

Benny mengatakan laporan masyarakat juga memberitahukan ada pihak yang melindungi pengemis itu beroperasi di pasar tersebut. Setelah itu, Petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) kami melakukan pengintaian terlebih dahulu keberadaan pengemis ngesot.

Menurut Benny, pihaknya setiap hari melakukan pemantauan namun baru hari ke lima pengemis ngesot itu dapat dijangkau. “Ketika kami jangkau ternyata para pedagang dan pembeli memberi apresiasi kepada petugas, mereka mendukung agar pengemis itu dibawa ke panti karena berpura-pura, sebenarnya dia bisa jalan tapi pura-pura cacat tidak bisa jalan,” ucap Benny.

Ketika dijangkau oleh petugas, lanjutnya, pengemis ngesot itu menangis. Dia menangis karena malu dilihat oleh orang banyak dan takut nanti disakiti oleh warga. “Petugas kami menanyakan mengapa menggunakan modus ngesot? Ia mengaku pura-pura ngesot dan cacat tidak bisa jalan agar orang di sekitar pasar merasa iba sehingga memberi sedekah kepada Ibu Adriana,” kata Benny.

Ketiga petugas bertanya oknum yang melindunginya di Pasar Mester, Adriana mengatakan dia hanya sering memberi uang kepada orang yang menginformasikan jika ada penertiban di area pasar. Tujuannya, agar terhindar dari jangkauan aparat seperti Satpol PP dan P3S. “Pendapatan Ibu Adriana ini lumayan, sekitar 100-150 ribu per hari, dia juga mampu mengirimkan uang per bulan 2,5 juta rupiah ke kampung untuk keluarganya di Indramayu, Jawa Barat,” ujar Benny.

Sebelum jadi pengemis, katanya, Adriana berprofesi sebagai pemungut barang bekas yang tinggal bersama pemulung lainnya di sekitar Stasiun Manggarai. Adriana sudah satu tahun menjadi pengemis. “Menurut para pedagang di situ, Ibu Adriana suka datang dan pulang diantar dengan motor atau kadang bajaj,” kata Benny. Ketika ditanya risih tidak ketika menjalankan aksi ngesot saat mengemis, Adriana menjawab sudah terbiasa, jadi tak masalah.

Selain pengemis di Pasar Mester Jatinegara, pada hari yang sama, Dinsos Jakarta juga menguak modus mengemis di Kereta Rel Listrik. Seorang remaja 14 tahun bernama IM menjalankan aksinya dengan pura-pura sakit di bangku KRL. “Dia awalnya mengaku harus jual tisu buat makan, ditinggal orang tua, tidak punya bayaran sekolah,”jelas Marwianti, Kepala Panti Sosial Putra Utama (PSAA) Putra Utama 1 Klender pada Selasa, 15 November 2016. Setelah di cek isi tasnya ternyata ada telepon genggam Samsung, powerbank, kunci motor, rokok Magnum tinggal 2 batang, uang 500 ribu hasil belas kasihan penumpang KRL.

Ketika diamankan, IM berbaju seragam SMP, berpeci kupluk hitam putih, membawa kresek merah berisi sekitar 30 tisu ukuran besar.Berdasarkan informasi Petugas Keamanan Dalam KRL, mereka ternyata sudah mengawasi, mengamati dan memfoto remaja tersebut di dalam KRL.

Dari foto terlihat remaja ini menerima makanan dan uang dari penumpang. Modus yang dijumpai petugas di dalam kereta adalah pura-pura sakit, kaki pincang, atau pura-pura pingsan seperti saat ditemukan oleh penumpang.Menurut pengakuan IM, modus seperti ini kerap dilakukan bersama teman-temannya di KRL jurusan Depok – Jakarta.

“Setelah menghubungi beberapa kontak yang ada di handphone IM, pertama kontak ibunya bernama Wartinah dan kontak Bapak yang memodali tisu atas nama Yana. Menurut Yana, Ipan biasa merokok dan motornya diparkir di terminal Depok, selanjutnya dia melakukan aksinya didalam KRL”, ujar Marwianti. Pengemis yang masih bocah ini akan dikembalikan kepada orangtuanya dengan perjanjian tidak mengulangi lagi. (Ndari Sudjianto/Foto: Dinsos DKI Jakarta)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: