Kekuasaan Donald Trump Mengingatkan pada Rezim Soeharto

Media di Amerika Serikat memperingkatkan Trump terkait mencampuradukan politik, keluarga dan bisnis dengan rezim Soeharto.
, Majalah Kartini | 01/12/2016 - 21:00

MajalahKartini.co.id – Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump terus mendapat sorotan. Kini dalam proses transisinya, banyak menimbulkan pertanyaan. Dimana menyinggung sejumlah kepentingan pribadi, kekuasaan dan bisnis keluarga digabungkan jadi satu.

The Washington Post melaporkan, saat ini, putrinya Ivanka dan menantunya Jared Khusner memainkan peran penting dalam proses transisi. Bahkan, Trump menolak untuk menempatkan konsultan independen untuk mengelola bisnisnya. Dia beralasan tidak ingin mengulangi kegagalan yang pernah dilakukan Wakil Presiden B. Cheney. Justru, dalam hal ini Trump memilih menempatkan anak-anaknya untuk mengelola kepentingan bisnis selama dirinya menjadi presiden.

Meski kebanyakan pebisnis menempatkan anak-anak mereka di level eksekutif, namun banyak juga pebisnis yang memiliki intuisi berbeda, dimana pejabat tidak menggunakan posisinya untuk memperkaya diri atau keluarga mereka. Atas hal itu, hampir di setiap negara yang menganut asas demokratis melarang pejabat terpilih menggunakan jabatan publik untuk mendukung kepentingan bisnis pribadi mereka.

Potensi itu kini terlihat dalam presiden terpilih Amerika Serikat. Situasi itu belum pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia. Atas potensi itu pula, menariknya, The Washington Post memberikan contoh kasus Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto selama 1966-1998.

Meski Soeharto dan Trump banyak perbedaan dalam banyak hal, gaya kepemimpinan dan sosok keduanya pula tidak bisa disamakan. Soeharto naik ke puncak kekuasaan sebagai seorang jenderal yang berhasil menumpas upaya makar Partai Komunis Indonesia. Sedangkan Trump merupakan pebisnis sukses yang baru saja menang Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Tetapi dikhawatirkan pengaruh bisnis Trump dan keluarga selama berkuasa sebagai presiden akan mengikuti pola yang sama. Dari sisi pengaruh bisnis, Washington Post menilai Trump berpotensi mengikuti jejak Soeharto. Selama Soeharto memimpin Indonesia, keluarganya punya pengaruh kuat dalam bisnis-bisnis besar nasional dan perpolitikan domestik. “Seharusnya Trump bisa mengambil pelajaran dari era Soeharto di masa itu, yaitu saat kehidupan keluarganya dicampur dengan kebijakan bisnis dan politik,” tulis Washington Post dalam artikelnya, Kamis (1/12/2016).

The Washington Post mencontohkan peran ekonomi anggota keluarga Soeharto yang meningkat drastis semasa kepemimpinannya. The Washington Post menuliskan tentang anak-anak Soeharto, seperti mbak Tutut yang saat itu mengelola layanan jalur tol, kemudian Tommy yang memonopoli produksi dan ekspor cengkeh. Lalu sepupu Soeharto, Sudwikatmono, yang mengimpor film dan Probowo menjadi seorang perwira militer yang karirnya sangat cemerlang, sementara saudara tiri Soeharto, Probosutedjo pada sektor perbankan. “Kerabat merupakan sekutu yang sangat berguna — baik dalam politik maupun dalam bisnis — karena loyalitas mereka yang tidak diragukan lagi,” tulis The Washington Post.

Mencampur Keluarga dan Politik Menimbulkan Masalah Besar

Dalam artikel The Washington Post, bahwa mencampuradukan urusan keluarga, bisnis dan politik bisa memicu masalah besar. Di mana kasus di Indonesia memberikan sedikitnya tiga pelajaran soal mengapa urasan keluarga dan politik kepresidenan lebih dari sekedar nepotisme dan presepsi keadilan.

Pertama, uang negara bisa digunakan dalam cara yang tidak efisien. Kemudian yang kedua, pengusaha menjadi buata pada masalah mereka sendiri dan korupsi. Kemudian, yang ketiga, pengutamaan keluarga memberikan sinyal buruk pada pasar Internasional, khususnya pada saat perekonomian sedang tidak menentu. Itulah mengapa, rezim Soeharto hancur dan ekonomi runtuh. Belajar dari pengalaman Indonesia, Trump dan keluarganya diperingatkan bahwa kepentingan keluarga tidak seharusnya dicampur dengan jabatan publik.

“Rakyat Indonesia menyesali apa yang terjadi 2 tahun kemudian, saat rezim Soeharto runtuh dan perekonomian kolaps. Alasan kebanyakan orang meyakini kepentingan pribadi keluarga tidak seharusnya dicampuradukkan dengan jabatan publik karena kepentingan pribadi dan publik sangat jarang bersesuaian,” tulis media terkemuka AS itu. (Sopan Sopian/Foto: The Washington Post)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: