Kapolda Kaltim: Pelaku Menggunakan Bahan Peledak Berdaya Rendah

Meski bom tersebut dalam kategori berdaya ledak rendah, tetap saja mampu melukai lima orang.
, Majalah Kartini | 14/11/2016 - 11:30

MajalahKartini.co.id – Aksi teror bom di Samarinda, Kalimantan Timur pada minggu (13/11) kemarin, melukai lima orang, bahkan salah satu korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka bakar yang diderita. Ledakan yang terjadi di Gereja Oikumene, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, diketahui menggunakan bahan peledak berdaya ledak rendah (low explosive).

Hal tersebut disampaikan oleh Kapolda Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Polisi Safaruddin yang mengatakan pelaku peledakan bom di Gereja Oikumene menggunakan daya ledak rendah “Jenisnya low explosive atau berdaya ledak rendah karena dampak kerusakannya tidak terlalu parah. Namun, kami masih terus menyelidiki untuk mengungkap jaringan terduga pelaku bom di Gereja Oikumene tersebut,” kata Safaruddin kepada wartawan usai menjenguk korban ledakan di Rumah Sakit IA Moeis Samarinda Seberang, Minggu (13/11) sore.

Meski bom tersebut dalam kategori berdaya ledak rendah, tetap saja mampu melukai lima orang dengan empat diantaranya menderita luka bakar serius, salah satunya korban yang Olivian Marbun balita berumur 2,5 tahun yang mengalami luka bakar mencapai 70 persen harus meregang nyawa. Dalam ledakan tersebut empat sepeda motor rusak parah, salah satunya motor milik terduga pelaku peledakan. Motor jenis Honda Kharisma yang terlihat sebagian besar hangus terbakar bersama tiga motor milik jemaat Gereja Oikumene.

Sementara itu, Kepala Polda Kalimantan Barat, Inspektur Jenderal Polisi Musyafak menngintruksikan kepada jajarannya di Kalbar untuk meningkatkan kewaspadaan pasca pelemparan bom melotov di Gereja Oikumene, di Samarinda, Kalimantan Timur. Selain itu, jajaran Polda Kalimantan Barat menurutn Musyafak akan memberdayakan bhabinkamtibmas, yang ada di desa-desa bersama babinsa dan bapulbaket untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat, melalui kunjungan dari rumah ke rumah.

“Melakukan silaturahim dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, dalam upaya membina dan memupuk kebhinekaan, yang telah terbangun cukup bagus selama ini,” ujarnya di Pontianak, Minggu (13/11). Pelaku pengeboman Gereja Oikumene disebut berinisial JO alias MAK berusia 32 tahun, tinggal di Jalan Cipto RT 04, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Samarinda Seberang. Dia pernah dihukum penjara 3 tahun 6 bulan terkait kasus terorisme dan dinyatakan bebas bersyarat pada 28 Juli 2014. (Raga Imam/Foto: ANT FOTO/Amirulloh)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: