Jenis-Jenis Kekerasan Seksual pada Perempuan, Ketahui dan Cegah

Kekerasan seksual mempunyai dua konteks, badan dan non-badan.
, Majalah Kartini | 08/03/2017 - 07:32

Jenis-Jenis Kekerasan Seksual pada Perempuan Ketahui dan Cegah

MajalahKartini.co.id – Bertepatan dengan Womens March atau Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada hari ini, Rabu (8/11), dengan salah satu tuntutannya adalah pengurangan kekerasan seksual terhadap perempuan, berdasarkan data Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan, ada 1.657 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sepanjang 2015.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Masruchah mengatakan jenis-jenis kekerasan seksual perlu diketahui agar bisa dicegah. “Ada 15 jenis kekerasan yang dipantau oleh Komnas, namun yang masuk ke dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ada delapan,” kata Masruchah ketika dihubungi Selasa (7/3).

Pertama, mengenai pelecehan seksual. Menurut Masruchah, pelecehan seksual pada perempuan terbagi menjadi dua, dalam konteks badan dan non-badan. Pelecehan seksual badan misalnya sentuhan yang tidak menyenangkan. “Sedangkan yang non-body, siulan, umpatan, itu sudah termasuk pelecehan,” ujar komisioner Komnas HAM ini. Kedua terkait eksploitasi seksual. Contohnya adalah perdagangan manusia.

Paling lazim dikenal masyarakat sebagai kekerasan seksual adalah perkosaan. Tetapi menurut Masruchah, perkosaan tak hanya dialami perempuan di luar pernikahan, ada juga yang dilakukan oleh suaminya sendiri. “Bila istri tidak siap tetapi dipaksa melayani, itu termasuk perkosaan,” kata Masruchah. Ia mengatakan seringkali pemaksaan ini berujung pada kekerasan fisik terhadap perempuan.

Kekerasan seksual ternyata juga bisa dilakukan oleh negara atau para medis. Menurut Masruchah, pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi tanpa kehendak perempuan juga bisa dianggap kekerasan. Dalam laporan yang diterima Komnas HAM, pernah ada pemberian kontrasepsi tanpa ada informasi terlebih dahulu.

Pemaksaan pernikahan juga bisa disebut dengan kekerasan seksual. Contohnya, menurut Masruchah, pernikahan pada anak-anak. “Ini berakibat buruk bagi organ reproduksi dan justru menyebabkan kemiskinan pada perempuan,” ujarnya. Masruchah mengatakan organ-organ reproduksi perempuan berhenti berkembang pada usia 16-121 tahun.

Pemaksaan kawin yang dimaksud Masruchah bukan hanya konteks pada pernikahan dini tetapi juga pada waktu pacaran. Persetubuhan dengan dalih pembuktian cinta juga termasuk kekerasan seksual. Sering kali tindakan ini berimbas pada kehamilan sehingga terjadi pernikahan.

“Berdasarkan temuan kami, banyak pernikahan yang berawal dari pacaran yang kebablasan hanya bertahan enam bulan saja,” ujarnya. Fenomena ini merugikan pihak perempuan. Pihak laki-laki bisa kembali sekolah atau beraktifitas seperti sebelumnya. Sementara pihak perempuan tak bisa melanjutkan karena terbebani anak dan terkena hukuman sosial. Akibatnya, tutur Masruchah, munculah kemiskinan baru pada perempuan.

Kekerasan lain seperti pelacuran paksa, penyiksaan seksual, hingga perbudakan seksual. Masruchah mencontohkan seperti jugun ianfu di zaman penjajahan Jepang. Para perempuan ini diculik dan dipaksa melayani seksual puluhan serdadu Jepang dalam waktu satu hari. Bila menolak, mereka akan mendapatkan siksaan. (Foto: Shutterstock)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: