Hari PRT, Mengingat Lagi Kisah PRT Disiksa Majikan

Tahun 2017 adalah tahun ke-11 untuk memperingati Hari PRT Nasional.
, Majalah Kartini | 16/02/2017 - 13:26

 

Hari PRT Mengingat Lagi Kisah PRT Disiksa Majikan

MajalahKartini.co.id – Tanggal 16 Juni adalah tonggak solidaritas gerakan Pekerja Rumah Tangga (PRT), yakni Hari PRT Internasional. Setiap tahun adalah tahun penuh harapan dan penantian, semangat untuk memperjuangkan hak hak para PRT. Jala PRT dan beberapa organisasi perempuan, LSM, kawan buruh, dan organisasi PRT itu sendiri mengkampanyekan Perlindungan PRT menjadi Hari PRT Nasional menjadi Hari Libur Nasional PRT setiap tanggal 15 Februari, dan sekarang di tahun 2017 adalah tahun ke-11 untuk memperingati Hari PRT Nasional.

Yuni SR, Anggota aktif di SPRT Sapulidi Jakarta dalam rilisnya mengatakan, Hari PRT nasional, dilatar belakangi oleh peristiwa penyiksaan dan kekerasan yang diterima oleh PRTA (Pekerja Rumah Tangga Anak) yang bernama Sunarsih, saat itu usianya 15 tahun. Bekerja di Surabaya, Jawa Timur dengan majikan yang bernama Ita. Saat bekerja dengan majikannya itu, Sunarsih dan empat teman PRT lainnya kerap kali mendapatkan perlakuan dan penyiksaan yang sangat biadab dari majikannya.

Sunarsih tidak mendapatkan hak-haknya sebagai pekerja, tidak diberi upah, jam kerja yang lebih dari 18 jam, diberi makan yang tidak layak, tidak mendapat akses untuk keluar rumah karena di kunci, tidak bisa berkomunikasi dan bersosialisasi, tidur dilantai jemuran. Penyiksaan yang kerap diterimanya setiap hari menyebabkan Sunarsih meninggal dunia tanggal 12 Februari 2001. “Majikan dalam proses hukum dijerat hukuman empat tahun penjara. Tapi karena banding, menjadi 2 tahun tidak dieksekusi. Keadilan tidak berpihak pada korban yang dianiaya,” kata Yuni.

Sebenarnya, lanjut dia, majikan Sunarsih yaitu, Ita pada tahun 1999 juga pernah menganiaya PRT nya tapi lolos dari jeratan hukum. Dan kembali pada tahun 2005, pelaku kekerasan ini melakukan penganiayan dan kekerasan terhadap Sunarsih yang lainnya. “Sampai sekarang pun, ternyata masih tetap saja ada penyiksaan dan kekerasan terhadapa teman- teman PRT. Pada bulan februari 2016 kita dikejutkan oleh PRTA yang bernama Sri Siti Marni (Ani) yang bekerja dari tahun 2007-2016 saat itu usianya masih 12 tahun, disekap selama 9 tahun oleh majikannya dengan kekerasan dan penyiksaan yang nyaris sama. Disiram air panas dan diseterika bahkan diberi makan kotoran kucing. Sampai akhirnya Februari 2016 Ani melarikan diri dengan loncat dari lantai 3 rumah majikannya dengan hanya seutas tali dan meminta pertolongan di pos Polisi yang terdekat,” bebernya.

Oktober 2016, lanjut Yuni, kembali dikejutkan dengan penyiksaan Nurlela PRT asal Cikarang, bekerja di Cileunyi Jawa Barat dengan majikan yang berprofesi sebagai PNS. Penyiksaan yang sama kerap kali disiram air panas, disetrika, bahkan digantung dengan tubuh yang dilipat. Hampir dari tahun ke tahun penyiksaan dan kekerasan PRT bertambah. Tapi dengan kejadian seperti itu, Pemerintah tetap saja menutup mata, tidak perduli dengan kebiadaban majikan yang seenaknya. Tidak ada inisiatif Negara dan Pemerintah untuk mencegah segala bentuk kekerasan terhadap PRT dan memberi Perlindungan atas hak-hak mereka.

“Karena itu kami Para PRT berjuang dengan semangat untuk mendesak pada Pemerintah dan Negara kita yang tercinta ini untuk mewujudkan segera UU Perlidungan PRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 189 tentang Kerja Layak PRT, supaya tidak ada lagi kekerasan dan penyiksaan terjadi terhadap PRT, dan PRT Indonesia punya payung hukum, punya perlindungan di Negaranya sendiri. Jadi kami tidak direndahkan dan dipandang sebelah mata atas profesi kami sebagai Pekerja. Dihargai oleh Negara lain yang ada di Indonesia,” paparnya.

“Semoga dengan cerita yang saya petik dan saya tahu sebagai salah satu PRT juga bisa membuka mata Pemerintah kita komisi IX dan Presiden supaya UUPPRT dan Ratifikasi KILO 189 segera dibahas dan disahkan. Jangan lagi ada korban lain diluar sana. Karena kenyataannya kehidupan PRT tidak baik baik saja di Negara sendiri,” kuncinya. (Foto: Foto: Mitra Wacana)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: