Hamil Di Luar Nikah, Para Gadis Ini Diasingkan

Mereka dibawa ke pulau kecil dan dibiarkan meninggal dunia di sana.
, Majalah Kartini | 10/05/2017 - 08:04

Hamil Di Luar Nikah Para Gadis Ini Diasingkan

MajalahKartini.co.id – Para gadis remaja yang hamil di luar nikah dulu dianggap aib bagi para keluarga di beberapa wilayah Uganda. Mereka dibawa ke sebuah pulau kecil dan dibiarkan meninggal dunia di sana. “Saat keluarga mengetahui saya hamil, mereka menyuruh saya menaiki sampan, lalu membawa ke Akampene (atau Pulau Hukuman). Saya tinggal di sana tanpa makanan ataupun air minum selama empat malam,” kata Mauda Kyitaragabirwe (106), yang kala itu berusia 12 tahun, seperti yang dikutip dari BBC.

Kebiasaan ini menjadi tradisi di Bakiga, Uganda. Mauda ingat waktu itu dia kedinginan dan kelaparan. Rasanya hampir mati. Pada hari kelima, seorang nelayan datang dan mengatakan akan membawanya pulang bersamanya. Dia khawatir itu hanya tipuan. “Tidak, saya akan membawa kamu untuk menjadi istri saya,” kutip Mauda dari suaminya.

Dalam tradisi masyarakat Bakiga, seorang perempuan muda hanya bisa hamil setelah menikah. Menikahkan seorang gadis perawan berarti menerima mahar pengantin perempuan, kebanyakan dibayar dengan ternak. Gadis remaja yang hamil di luar pernikahan tak hanya membuat malu tapi juga menghilanhkan peluang mendapatkan mahar.

Keluarga-keluarga tersebut biasanya membuang gadis-gadis yang hamil di Pulau Hukuman. Mereka membiarkan keluarganya mereka meninggal di sana. Kebanyakan anak perempuan saat itu tak tahu cara berenang. Ketika dibuang, pilihan mereka hanya dua mati tenggelam atau tewas karena kedinginan dan kelaparan.

Sementara di Distrik Rukungiri, gadis remaja yang hamil di luar nikah akan dilemparkan dari tebing sebuah air terjun bernama Kisiizi. Praktik ini berhenti ketika gadis yang dilempar menarik kakak laki-lakinya ke air terjun. Tak ada yang pernah selamat dari Air Terjun Kisiizi ini. Berbeda dengan sejumlah gadis remaja dari Pulau Hukuman yang selamat berkat para pemuda yang tidak mampu membayar mahar pengantin.

Untungnya Mauda mendapatkan suami yang mencintainya apa adanya. “Ia mengatakan: ‘Saya akan mengeluarkanmu dari hutan belantara, dan saya tidak akan membuatmu menderita,” kata Mauda mengenang almarhum suaminya, James Kigandeire, meninggal pada 2001. Dia sendiri merupakan korban pembuangan terakhir yang masih hidup. Sejak agama Nasrani masuk ke wilayah tersebut, tradisi membuang para perempuan muda ini dihilangkan. (Foto: View Uganda)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: