Dilema Wartawan Saat Meliput Aksi Unjuk Rasa

Dewan Pers menyoroti aspek keselamatan wartawan ketika bertugas meliput demonstrasi, terutama yang mengandung seruan menyerang media tertentu.
, Majalah Kartini | 24/11/2016 - 15:30

MajalahKartini.co.id – Masih teringat dibenak kita akan aksi unjuk rasa bela Islam 4 November lalu yang dihadiri oleh sejumlah ormas Islam dari seluruh Provinsi. Atas peristiwa tersebut menjadikan topik hangat sejumlah dapur redaksi, berboyong-boyong sejumlah media pun hadir di lokasi, namun saat melakukan tugasnya menjadi momok yang menakutkan.

Bagaimana tidak hadirnya media seakan tidak diterima oleh kalangan pengunjuk rasa, mereka menilai media tertentu yang meliput telah melakukan pelintiran informasi yang tersebar dan tidak adanya berita yang seimbang dilapangan. Menyikapi hal itu Dewan Pers menyoroti aspek keselamatan wartawan ketika bertugas meliput demonstrasi, terutama yang mengandung seruan untuk menyerang media tertentu seperti yang terjadi.

Dalam kesempatannya Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, dalam diskusi bertema “Dilema Meliput Unjuk Rasa” di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (22/11) mengatakan “Aksi 4 November lalu ada mobil dari media yang diserang dan beberapa wartawan juga dilecehkan. Publik seharusnya paham bahwa wartawan hanya bertugas melaporkan fakta untuk kepentingan masyarakat,” ucapnya.

Dia prihatin dengan munculnya ajakan kepada masyarakat untuk memusuhi wartawan, padahal masyarakat seharusnya mendapatkan dukungan wartawan. Yosep menghimbau kepada publik untuk memberikan ruang kemerdekaan pers bagi wartawan dan memahami bahwa awak pers bekerja untuk kepentingan publik.

Perlu disadari bahwa wartawan dalam bekerja memperoleh perlindungan hukum yang terikat. Apabila disudutkan oleh pihak tertentu dan kemudian tidak mendapatkan fakta peliputan, maka yang rugi adalah publik karena mendapatkan informasi yang tidak menyeluruh.

Untuk meredam situasi tersebut, Dewan Pers mengajak organisasi profesi kewartawanan untuk berinisiatif menyusun pedoman keselamatan jurnalis dalam meliput demonstrasi. Selain itu perlu pula adanya upaya berbagi pengalaman dalam meliput unjuk rasa, terutama yang berpotensi membahayakan keselamatan karena para demonstran memiliki perasaan amuk akibat sentimen kepada media tertentu.

Dewan Pers pun juga mengajak awak media untuk saling mengingatkan dalam situasi unjuk rasa yang tampak mulai tidak kondusif. “Wartawan perlu saling menjaga dan meliput bersama-sama, itu akan lebih baik,” ungkap Yosep. Serangan dan ancaman kepada wartawan yang dilakukan dalam sebuah unjuk rasa terjadi karena publik mengidentifikasi wartawan sebagai pihak yang tidak netral dan memiliki kepentingan tertentu.

“Kalau ada nuansa berita berbeda-beda yang terpublikasikan, sampaikan ke Dewan Pers, bukan dengan menyerang wartawan di lapangan dan alat-alatnya. Mereka hanya mengumpulkan kepingan fakta untuk digabung dengan hasil liputan lain dan disiarkan kepada publik,” ucap Yosep. Hasil liputan yang berbeda tersebut, kata dia, merupakan kewajaran sebagai dampak dari keberagaman isi berita (diversity of content) akibat keberagaman pemilik media (diversity of ownership).

Anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Wina Armada, berpendapat bahwa keberagaman konten berita, terutama media televisi, justru menghindari terjadinya framing atau pembingkaian opini tunggal sekaligus memberi ruang bagi publik untuk memilih. Wina tak memungkiri adanya tantangan non-teknis bagi wartawan dalam menghasilkan konten berita, yaitu terkait dengan peran pemilik media. “Ini tantangan yang strategis dibandingkan tantangan teknis yang merupakan otoritas keputusan media, tetapi menyikapinya tetap membutuhkan perangkat seperti pemahaman mengenai etika jurnalistik,” kata dia. (ANT/Foto: ANT FOTO/Reno Esnir)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: