Dampak Melihat Konten Bunuh Diri di Media Sosial

Mereka yang menyaksikan konten, dalam kondisi kejiwaan sehat maupun tidak, rentan mengalami trauma sekunder karena menyaksikan adegan yang terlalu eksplisit.
, Majalah Kartini | 25/07/2017 - 18:02

Dampak Melihat Konten Bunuh Diri di Media Sosial

MajalahKartini.co.id – Beberapa bulan terakhir kasus orang yang bunuh diri dan terekam di media sosial, lalu akhirnya tersebar dan menjadi viral semakin mencuat. Tahukah Anda bahwa menyaksikan dan menyebarkan konten kepada teman dan keluarga Anda, pahami lebih dulu bahwa hal itu memiliki banyak dampak negatif.

Seperti yang dikutip dari laman Into the Light, mereka yang menyaksikan konten, dalam kondisi kejiwaan yang sehat maupun tidak, rentan mengalami trauma sekunder karena menyaksikan adegan yang terlalu eksplisit. Trauma sekunder yang berulang-ulang dapat menyebabkan orang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya. Trauma sekunder ini juga dapat menyerang diri kita sendiri yang menontonnya.

Trauma sekunder juga tidak hanya dapat terjadi dengan adegan bunuh diri, namun juga foto atau video eksplisit lainnya, seperti adegan kekerasan, peristiwa terorisme, atau orang yang tubuhnya terpotong-potong atau terluka hebat karena kecelakaan atau peristiwa tertentu.

Penyebaran konten juga dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide) atau dikenal pula dengan efek Werther. Informasi bunuh diri yang terlalu mendetail seperti ciri-ciri orang, asumsi penyebab, dan metode yang jelas, dapat mendorong orang yang sedang depresi, memiliki masalah pribadi, atau memiliki pemikiran bunuh diri, untuk ikut melakukan bunuh diri.

Hal ini menjelaskan mengapa setelah kasus orang tertentu yang bunuh diri, juga sering diikuti dengan orang lain yang bunuh diri dengan cara yang mirip. Tentu kita berharap agar jumlah orang yang bunuh diri tidak bertambah, bukan? Orang-orang yang kenal dekat dengan orang yang bunuh diri bisa saja terganggu kenyamanannya. Hal ini dapat terjadi karena beragam penyebab, seperti karena munculnya komentar yang tidak sopan di media massa.

Dalam beberapa kasus, orang-orang yang ditinggalkan juga bisa mendapatkan stigma tambahan ketika informasi pribadi dari orang yang bunuh diri juga disebar di media massa atau media sosial. Stigma tersebut bisa berupa gosip, tuduhan, fitnah, atau hinaan verbal atau penolakan/protes dari masyarakat sekitar, termasuk ditolaknya jenazah untuk disemayamkan atau dimakamkan sesuai dengan agama yang dianut orang yang bunuh diri.

Padahal, orang yang ditinggalkan karena keluarga atau kerabatnya bunuh diri (disebut sebagai “penyintas bunuh diri”) seharusnya diberi dukungan moral yang tepat, karena mereka masuk dalam kelompok yang rentan mengalami depresi, gangguan jiwa, atau keinginan bunuh diri. Hormatilah mereka yang sedang berduka karena mereka kehilangan orang yang mereka kasihi.

Selain itu, orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi yang butuh pertolongan dapat membaca komentar negatif dari video bunuh diri. Mereka akan menjadi enggan mencari bantuan karena takutterkena stigma dan penghakiman dari orang banyak. Padahal, pemberitaan bunuh diri harusnya menjadi momentum untuk mengundang orang-orang yang memiliki pemikiran bunuh diri atau depresi untuk mencari pertolongan kepada orang terdekat atau menghubungi tenaga profesional kesehatan jiwa. (Foto: Digital Trends)

 

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: