Cuti Hamil Panjang Jangan Setengah Hati

Ketika masih ada yang tak penuhi hak cuti 3 bulan, sejumlah perusahaan justru memberikan hak 6 bulan.
, Majalah Kartini | 07/12/2017 - 13:09

MajalahKartini.co.id – Dari waktu ke waktu masih saja ada perusahaan –tak sedikit jumlahnya- yang dengan segala cara tak memenuhi ketentuan memberikan hak cuti hamil selama tiga bulan bagi karyawati/buruh, sebagaimana ditentukan undang-undang sebuah perusahaan periklanan yang sedang berkembang di Jakarta. Di sisi lain, mulai bermunculan perusahaan yang justru memberikan cuti hamil lebih dari tiga bulan? Apakah ini terkait meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap kesejahteraan dan kebutuhan para pekerjanya, atau sekadar ‘gimmick’ kehumasan semata?

Ditemui di kantornya yang terletak di kawasan Bumi Serpong Damai, Friska Handayani, karyawan bagian keuangan di Opal Communication, berkisah bagaimana ia merasa bagai mendapat durian runtuh.  Saat itu, tahun 2015, ia baru dua tahun bekerja di perusahaan periklanan yang sedang berkembang di Jakarta itu.

Beberapa bulan setelah mendapat kepastian dari dokter bahwa ia sedang hamil anak pertama, ia melaporkan kehamilannya, untuk sekalian merancang jadwal cuti hamil. Ia membayangkan akan mendapat kerumitan saat membicarakan permohonan cuti hamil. Tak dinyana, malah ia mendapat kabar yang awalnya sulit ia percaya.

Staf SDM memberitahunya bahwa ia dipersilakan menikmati cuti enam bulan: dua kali lipat dari ketentuan yang ditetapkan undang-undang! “Duh rasanya kejutan!” ujar Friska yang tinggal di Kebayoran ini, sumringah. Dan di seluruh enam bulan itu ia mendapat gaji penuh. Sebagaimana kalau ia masuk kerja biasa. Jadi, katanya, “Saya bisa memberi ASI eksklusif secara langsung, bisa lebih dekat dengan anak.”

Tak terasa kini sang puteri ‘hasil’ dari kebijakan enam bulan cuti itu sudah menginjak usia 2 tahun.  “Dia anak pertama. Nanti untuk program anak kedua saya tidak kuatir,” ujarnya seraya tertawa. Ia mengenang, saat masuk kantor lagi, setelah cutinya habis, “Ada beberapa orang baru yang tidak kenal, teman saya satu ruangan ada yang baru.”

Ia memang harus menyesuakan diri lagi. Namun, katanya, “Saya merasakan bekerja menjadi lebih produktif, meski di kantor harus lebih ekstra kerja,” setelah enam bulan absen, terangnya.  Ia mengungkapkan, selain dirinya ada seorang karyawan lain yang sudah menikmati kebijakan itu.  “Senang sekali! Sampai banyak orang pada iri,” kata Friska pula.

Namun Christina Salbini bukan termasuk mereka yang harus terlalu iri. Sebagai karyawati PT Unilever Indonesia, ia juga memperoleh cuti hamil lebih lama: empat bulan. “Excited dan bangga, karena perusahaan menerapkan cuti hamil jauh melebihi anjuran pemerintah,” ujar ibu dua anak yang baru saja meyelesaikan empat bulan masa cuti melahirkan.

Christina mengaku jadi bisa lebih banyak menghabiskan waktu mengurus si kecil tanpa khawatir akan harus segera meninggalkannya untuk bekerja. “Waktu tambahan 1 bulan sungguh lebih berasa. Dulu (saat melahirkan anak pertama), anak belum 3 bulan sudah harus bekerja lagi,” kata Senior Brand Manager Sunlight ini pula.

Perempuan yang sudah bekerja selama tujuh tahun di Unilever ini merasa, satu bulan cuti tambahan membuat ia jauh lebih segar dan penuh motivasi ketika kembali bekerja.

Baca juga: Di Perusahaan Ini Cuti Hamil 6 Bulan Tak Lagi Mimpi

Vanessa Soetopo, Dokter Umum di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, memuji pemberian cuti ekstra itu. “Akan sangat bermanfaat, antara lain terbentuk ikatan yang kuat antara ibu dan bayi. Angka keberhasilan ASI eksklusif juga pasti akan tinggi. Pun dengan angka kejadian depresi post partum bisa menurun,” katanya.

Namun di dunia layanan kesehatan, katanya, sering ada kendala, bahkan untuk cuti biasa: “kadang masih ada klinik yang susah buat dapat cuti,” ungkapnya. Berbeda dengan Friska dan Christina, masih banyak perempuan lain yang tidak bahkan untuk cuti sesuai ketentuan pemerintah pun masih sering tidak terlalu mudah. Terkadang karena alasan teknis.

Seorang pekerja sektor swasta, Prasetya Wahyu mengatakan ia hanya bisa bermimpi. “Tentunya sebagai ibu dan wanita bekerja saya akan sangat senang karena pastinya goal ASI eksklusif selama 6 bulan akan bisa terwujud,” katanya.

“Bahkan kalau saya dikasih kesempatan mendapat cuti enam bulan namun misalnya yang tiga bulan merupakan cuti tidak dibayar, tidak masalah. Asal bisa dapat cuti 6 bulan,” cetus perempuan yang aktif di Komunitas Exclusive Pumping Mama Indonesia ini.
“Namun saya tidak tahu kalau dari sisi perusahaan, ya,” katanya pula.

Dokter spesialis anak, dr Meta Hanindita SpA mengatakan cuti panjang di masa awal kelahiran akan sangat bermanfaat bagi ibu dan anaknya. Antara lain, mempererat bonding ibu-anak, mendukung anak mendapat makanan terbaiknya, yaitu ASI eksklusif.

“Selain itu, ibu dapat mempersiapkan mental sebelum melahirkan seoptimal mungkin, ibu lebih stress-free, sehingga mengurangi risiko stres atau depresi pasca melahirkan. Otomatis, ASI lancar deh, dan tentu saja Ibu akan bisa fokus memulihkan diri pasca persalinan,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Dokter Meta juga menyebut, jatah cuti lebih panjang dapat membantu ibu untuk mengoptimalkan 1000 hari pertama kelahiran anaknya. “Dengan cuti lebih panjang, ibu dapat lebih fokus dan optimal untuk memberikan stimulasi juga nutrisi pada anak di 1000 hari pertamanya. Ini akan sangat berguna untuk tumbuh kembang yang optimal,” ucap perempuan berusisa 33 tahun kelahiran Bandung ini.

Sampai saat ini, berdasar data yang dihimpun oleh MajalahKartini.co.id, jumlah perusahaan di Indonesia yang sudah menerapkan kebijakan cuti hamil lebih dari 3 bulan masih bisa dihitung dengan jari. Antara lain PT Danone Indonesia, PT Unilever Indonesia, Johnson and Johnson, dan Opal Communication.

Evan Indrawijaya, Direktur HR Danone ELN Indonesia mengatakan bahwa kebihjakan itu diterapkan berdasarkan sebuah visi jangka panjang. “Kebijakan perusahaan yang ramah keluarga (family friendly) diwujudkan, selain dengan pemberian cuti hamil dan melahirkan selama 6 (enam) bulan bagi karyawan perempuan, juga cuti 10 hari bagi karyawan laki-laki yang istrinya melahirkan,” tambah Evan.
Danone Indonesia sudah setahun menerapkan sistem cuti 6 bulan ini.

Evan menjelaskan, selain cuti hamil dan melahirkan, untuk mendukung 1000 HPK (hari pertama kehidupan) yang optimal, Danone Indonesia juga menyediakan ruang laktasi di setiap kantor dan pabrik mereka. Jumlah karyawan di perusahaan itu seimbang antara laki-laki dan perempuan. Dulu, sebelum ada ketentuan cuti 6 bulan, banyak karyawan perempuan yang kemudian mengundurkan diri setelah melahirkan. Kini tidak lagi.

Adapun PT Unilever Indonesia, sejak awal tahun 2017 memberikan tambahan satu bulan hak cuti, sehingga cuti hamil di perusahaan itu menjadi empat bulan. Willy Saelan, direktur SDM PT Unilever Indonesia menyebut, jumlah karyawati yang sudah memanfaatnya hingga kini sebanyak 23 orang.

Disebutkannya, keluarga yang bahagia dan sejahtera juga merupakan faktor kesuksesan karyawan dalam menjalani pekerjaan sehari-hari di kantor.  “Untuk itu, kami mengambil langkah-langkah proaktif guna membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga karyawan, salah satunya adalah memberlakukan perpanjangan cuti panjang kepada Ibu hamil hingga menjadi 4 bulan.”

Masa-masa awal kelahiran anak adalah momen yang sangat penting bagi setiap orang. “Kami ingin memberikan waktu berkualitas yang lebih lama kepada sang Ibu untuk fokus membangun pemenuhan emosi secara optimal dan mengasuh sang bayi terutama pasca-melahirkan,” ujarnya.

Mereka juga memberikan cuti kepada karyawan pria yang isterinya melahirkan, untuk memberikan kesempatan agar bisa lebih terlibat dalam menjalankan dan berbagi tanggung jawab dalam merawat anak. Terutama beberapa hari setelah anak dilahirkan, seperti menggantikan popok, memandikan sang bayi, menenangkan ketika bayi menangis, sehingga hubungan emosional yang terbangun tidak hanya antara sang Bayi dengan sang Ibu, tetapi juga dengan sang Ayah.

Hal lain dikemukakan Nanang Chalid selaku Head of HR Partner CD, Finance, IT and Head of Employee Branding Unilever Indonesia.
“Satu hari pun penambahan pasca-kelahiran itu sangat berarti bagi karyawan. Kita melihat kepentingan bisnis jangka panjang, kita ingin semua orang di bisnis ini sukses. Kita melihat karyawan menjadi loyal, betah dan engagement karyawan lebih tinggi dengan kebijakan cuti empat bulan ini,” papar Nanang.

Prakarsa-prakarsa khusus ini diapresiasi penuh oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak (APSAI), Luhur Budijarso.
Ia mengatakan salah satu komitmen APSAI adalah membantu pemerintah mewujudkan perlindungan atas hak anak dan mendampingi perusahaan-perusahaan untuk lebih ramah anak dengan mengaplikasikan Prinsip dan Kriteria Perusahaan Layak Anak (P&K PLA) yang diadopsi dan diadaptasi dari Children’s Rights and Business Principles (CRBP) yang meliputi kebijakan manajemen, program maupun produk yang layak anak.

“Perusahaan dapat membuat program-program yang ramah anak serta mengeluarkan kebijakan yang mendukung orang tua agar dapat mencurahkan yang terbaik bagi anaknya, terutama dalam masa 1000 HPK. Karenanya kami mengapresiasi perusahaan di Indonesia yang telah mengeluarkan kebijakan cuti hamil dan melahirkan selama enam bulan,” jelas Luhur.

Rohika Kurniadi Sari Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan, Keluarga dan Lingkungan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, juga melontarkan pujiannya. Betapa pun, katanya, sekarang ini pemerintah masih berpegang pada ketetapan yang mewajibkan perusahaan untuk memberikan cuti selama 90 hari.

“Kita butuh kajian yang lengkap tentang kebijakan cuti hamil 6 bulan misalnya. Sehingga bisa menjadi landasan payung kebijakan. Menjadi wacana juga apakah perlu menjadi RUU khusus, kajian harus lebih lengkap,” ungkapya.  Pihaknya, lanjut Rohika akan bertemu dengan beberapa asosiasi, sampai dimana policy tersebut bisa dilaksanakan.  “Banyak pihak yang kita dorong untuk menjadi lebih progresif, daerah didorong membuat perda terkait dan membuat kota yang ramah anak,” pungkasnya.

Selain beberapa perusahan swasta, Provinsi Aceh menjadi satu-satunya lembaga pemerintah yang memberikan hak cuti hamil selama enam bulan penuh kepada seluruh pegawai mereka. Hal ini ditetapkan melalui Peraturan Gubernur Aceh nomor 49 tahun 2016 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif.

Pergub itu berlaku bukan hanya untuk PNS saja, tetapi juga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau tenaga honor dan tenaga kontrak perempuan. Mereka mendapatkan cuti selama 20 hari sebelum melahirkan dan enam bulan sesudah melahirkan untuk pemberian ASI eksklusif.

Hak cuti hamil enam bulan merupakan semacam keadaan ideal yang masih menjadi mimpi bagi kebanyakan perempuan, khususnya buruh kecil yang bahkan cuti hamil tiga bulan pun sering susah mendapatkannya. Mereka bahkan tidak mendapat jaminan akan keberlanjutan kerja mereka.

Sandra Riskaningsih dari Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mengatakan, serikat buruhnya sudah menjadikan cuti hamil 4 bulan sebagai butir perjuangan jangka panjang.  “Sayangnya belum ada tindak lanjut yang lebih jauh. Baru sekadar wacana dan program kerja serikat,” ungkap Sandra

Sayang memang, lanjut karyawan di PT CLI Indonesia, Cikupa Tangerang ini, sampai sekarang para anggota dan pengurus serikat buruh itu masih terus memperdebatkan hal itu, terkait dampaknya bagi perusahaan dan keberlanjutan kerja mereka sendiri.

Menurut aktivis Aliansi Laki-Laki Baru, Eko Bambang Subiantoro, seharusnya perusahaan-perusahaan memahami, bahwa cuti hamil panjang itu akan mendorong karyawan lebih sejahtera secara batin, dan meningkatkan loyalitas pada perusahaan dan memberikan motivasi serta semangat kerja baru. “Mestinya ke depan, kebijakan tersebut bisa berlaku sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap karyawan,” tandasnya.  (Foto: Ecka Pramita/Doc. Pribadi/Ilustrasi Danone)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: