Apresasi Program Antikekerasan Anak, PBB Undang Jokowi

PBB mengatakan program-program antikekerasan yang telah dilaksanakan pemerintah Indonesia layak diterapkan di negara lain.
, Majalah Kartini | 27/02/2017 - 21:03

Presiden Joko Widodo (kanan) menjawab sejumlah pertanyaan dari perwakilan siswa sekolah dasar se-Jabodetabek yang berperan sebagai reporter cilik di Istana Negara, Jakarta, Selasa (20/10)

MajalahKartini.co.id –  Wakil Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Kekerasan terhadap Anak Marta Santos Pais meminta Presiden Joko Widodo hadir dalam pertemuan tahunan di New York, AS, pada Juli 2017. Dia mengungkapkan pertemuan dengan Presiden Jokowi sangat penting karena didorong dengan komitmen Indonesia yang kuat soal membantu anak-anak sebagai bagian dari agenda global yang berkelanjutan.

“Setiap tahun pada bulan Juli ada pertemuan penting di New York dan untuk meninjau kemajuan pada mengembangkan agenda itu, Presiden Indonesia untuk menyampaikan hasil usahanya,” kata Pais saat konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Senin (27/2). Dia mengatakan program-program antikekerasan yang telah dilaksanakan pemerintah Indonesia layak diterapkan di negara lain.

Menteri Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Indonesia Yohana Yembise mengatakan Presiden diminta hadir pertemuan tahunan di New York untuk menceritakan pengalaman-pengalaman yang sudah dibuat Indonesia dalam menangani kasus-kasus anak. “Jadi nanti akan hadir. Pada dasarnya beliau (Pais) apresiasi saja apa yang sudah dibuat oleh Indonesia,” kata Yohana. Dia mengatakan Pais menyampaikan kepada Presiden tentang keberhasilan-keberhasilan yang dicapai oleh Indonesia terkait perlindungan anak.

“Mereka sangat menghargai Presiden tentang medium term untuk child protection yang telah dibuat oleh Bappenas dan kementerian terkait, kami semua,” katanya.  Yohana mengatakan bahwa mereka menggunakan itu menjadi model yang akan menginspirasi negara-negara lain untuk mengikuti model yang dibuat Indonesia. Yohana menuturkan pemerintah mempunyai nasional strategi untuk pencegahan atau penghapusan kekerasan kepada anak. Itulah yang dipakai model yang sekarang ini kami diminta untuk bisa membagi-bagikan model ini kepada negara-negara lain.

Yohana juga mengatakan bahwa Indonesia sudah masuk dalam “Global Partnership” untuk “child protection”, dimana ada empat negara lainnya, termasuk Meksiko. “Kalau sudah masuk ke alam Global Partnership ini, maka Indonesia dan empat negara ini menjawab permasalahan yang dihadapi anak-anak. Jadi child protection ini sudah bisa karena Indonesia terlibat dalam melindungi anak-anak secara global.(Foto: ANT FOTO)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: