Lestari Moerdijat, Kontribusi Nyata Untuk Restorasi Indonesia

Politik bukanlah hal yang tabu untuk perempuan. Lestari Moerdijat telah membuktikan itu. Di tangannya, banyak perubahan terjadi, terutama di bidang pendidikan. Ia perempuan yang selalu percaya pada restorasi Indonesia.
, Majalah Kartini | 14/05/2018 - 15:00

MajalahKartini.co.id – Puluhan tahun berkecimpung di dunia korporasi saat membesarkan Media Group, Lestari Moerdijat kini memutuskan untuk mengabdikan diri di bidang politik. Partai Nasdem kini menjadi tempatnya bernaung. Sebagai seorang representasi Kartini masa kini, Lestari menunjukkan bahwa jika kita ingin mengubah sesuatu, dibutuhkan kerja keras, komitmen, dan disiplin tinggi agar tujuan tak hanya menjadi sebatas wacana. Kali ini, perempuan kelahiran Surabaya, 30 November 1967 ini membagikan pengalaman dan pemikirannya secara eksklusif kepada KARTINI.

Apakah rahasia kesuksesan Ibu dalam berkarier, baik di dunia korporasi maupun politik seperti sekarang?

Secara naluri ini sebenarnya sudah saya rasakan dan jalankan sejak dulu, sesuatu hal yang sesungguhnya sangat penting untuk dilakukan, yaitu berusaha betul untuk mengenal diri sendiri. Kita harus paham benar dengan makna kata qualified. Saya selalu bilang kepada karyawan, teman, dan anak-anak di rumah, bahwa kita harus tahu apa yang kita tahu dan berusaha tahu apa yang tidak kita tahu. Itulah sebabnya, untuk hal-hal yang tidak saya tahu, saya akan mencari tim yang profesional untuk melengkapi apa yang tidak saya pahami.

Selama perjalanan karier, tantangan terbesar apa yang pernah Anda temui?

Sebagai seseorang yang dekat dengan pimpinan partai (Nasdem), Pak Surya Paloh, tentunya saya banyak terimbas hal-hal yang berkaitan dengan politik itu sendiri. Hantaman-hantaman yang beliau terima sebagai seorang tokoh politik, secara otomatis juga menghantam kami semua, baik (orang-orang) korporasi, maupun saya sendiri sebagai bagian dari tim beliau yang berada di sekitarnya. Saya pun pernah mengalami sulit tidur selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan karena kondisi yang memaksa kami semua untuk struggle dengan situasi yang ada.

Sejak kapan Anda tertarik dengan dunia politik?

Sesungguhnya saya terinspirasi dari pimpinan saya di Media Group, Pak Surya Paloh. Selama bekerja sama dengan beliau, saya bersentuhan dengan banyak masalah, baik di dunia korporasi maupun politik. Saya kerap membantu beliau dalam mengurus karier politiknya sejak beliau aktif di Golkar dahulu, hingga sekarang berhasil membentuk partai Nasdem. Pengalaman itu membuat saya ingin bergerak secara aktif membuat perubahan. Kebetulan visi kami sama, saya tahu persis yang menjadi pikiran beliau. Jadi, saya memutuskan untuk masuk ke Nasdem dan memulai perubahan dari situ.

Bagaimana respon keluarga dengan keputusan Anda itu?

Saya bersyukur respon keluarga baik dan mendukung pilihan saya ini. Kebetulan, suami saya juga aktif di politik. Ayah saya pun memberikan dukungan penuh karena ia sendiri seseorang yang dekat dengan aksi perubahan. Bagi saya, kalau kita mau mengubah sesuatu, kita harus masuk ke dalam sistem. Tidak bisa hanya teriak-teriak di luar. Aspirasi penting, namun kerja nyata dari dalam dampaknya lebih signifikan.

Ibu terkenal sebagai wanita yang concern terhadap dunia pendidikan dan pemberdayaan wanita. Boleh diceritakan sedikit mengenai hal itu?

Sebetulnya, secara spesifik saya lebih konsen dengan pendidikan. Saat Media Grup berencana untuk mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu, saya ikut ambil andil dalan mengatur pembangunan sekolah. Menurut saya, pendidikan itu kunci. Pilar dari bangsa adalah pendidikan. Saya pikir, penting untuk memberikan wadah kepada anak-anak untuk mendapat pendidikan. Bukan hanya untuk mencerdaskan tapi juga untuk membangun martabat. Makanya saya tergerak untuk berkontribusi di sini. Kalau di bidang pemberdayaan perempuan sendiri, saya bertindak sebagai supporter. Contohnya, saya membantu ayah saya yang pensiunan dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks kepada wanita di kampung-kampung.

Kontribusi Anda di dunia pendidikan terlihat dari keberlanjutan Sekolah Sukma Bangsa hingga kini. Boleh diceritakan mengenai hal ini?

Pada awalnya sekolah ini memang didirikan untuk anak-anak Acehascatsunami 2006 dalam rangka melanjutkan kegiatan yang dilakukan oleh Media Group bersama masyarakat melalui Dompet Indonesia Menangis. Dana yang ada sebetulnya sudah habis pada tahun kedua. Tahun ketiga hingga saat ini seluruh operasional sekolah dibiayai oleh Media Group bersama para donator yang mayoritas datang dari Media Group sendiri. Setelah jajaran pengurus menilai bahwa sekolah ini telah mampu kokoh berdiri, kami membuka komunikasi dan berinisiatif untuk sharing ke sekolah-sekolah di sekitarnya. Misalnya kami mendirikan lapangan olahraga dan laboratorium yang bisa dipakai bersama dengan anak-anak dari sekolah lain. Kemudian kami juga mengeluarkan banyak modul pelatihan untuk guru-guru dari sekolah lain di luar Sekolah Sukma Bangsa. Guru-guru kami yang tergabung dalam komunitas Sahabat Sukma juga bekerja sama dengan banyak institusi pelatihan guru untuk melatih guru-guru di seluruh Indonesia.

Selama 11 tahun mengelola Sekolah Sukma Bangsa, suka duka seperti apa yang Ibu alami?

Banyak suka dukanya. Tahun-tahun awal adalah tahun-tahun yang menarik. Saya harus menyampaikan banyak dinamika sosial, misalnya terkait paham baru yang kami tularkan kepada anak-anak untuk perkembangan mereka saat mendirikan sekolah ini. Hantaman cukup banyak, dan berusaha untuk tetap menjalankan apa yang kami percayai juga tidak mudah. Tapi Alhamdulillah, Allah memberikan jalan pada kami. Hingga hari ini sekolah Sukma Bangsa telah memiliki 27 orang guru yang sudah berhasil mengambil program master in teaching education di Finlandia. Program tersebut adalah program kerjasama Media Group dengan Finland University.

Menurut ibu, apa yang perlu diubah dari pendidikan di sini?

Duh, pekerjaan rumah kita masih banyak, ya. Yang jelas, memberikan pendidikan dasar adalah kewajiban negara. Di bawah presiden sekarang, sebetulnya sudah banyak sekali perubahan, terutama di bidang pendidikan. Meski di luar sana masih banyak sekali yang perlu dibenahi. Paling tidak kita bergerak maju.

Menurut Ibu, perubahan apa yang paling mendesak untuk dilakukan di negeri ini?

Saya rasa kita butuh restorasi dalam segala hal. Yang paling sulit adalahmengubah mindset yang telah melekat sekian lama. Kita perlu lebih produktif. Maka dari itu restorasi diperlukan.

Seperti apa quality time Ibu sehari-hari bersama keluarga?

Setiap pagi, saya menyempatkan makan pagi sama keluarga, sebelum kami berangkat ke tujuan masing-masing. Pagi hari, saya juga membangunkan anak untuk sekolah. Setelah selesai sarapan, kami berangkat bersama.

Adakah pola pengasuhan khusus untuk anak-anak?

Sebetulnya tidak ada yang luar biasa. Yang terpenting bagi saya adalah mengajarkan prinsip dan moral. Paling tidak, saya ingin mereka dapat bertanggung jawab pada diri sendiri sebelum bertanggung jawab pada orang lain. Paling tidak, saya hanya ingin anak saya bisa berguna buat sekelilingnya. Doa saya semoga mereka bisa jadi saluran berkatuntuk siapa pun. Kita mengikuti saja mereka mau kemana, bakatnya apa. Tapi tetap harus diawasi. Menurut saya mereka tidak boleh dilepas begitu saja. (*)

 

 

 

 

 

 

 

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: