Kaleidoskop 2016: Ketika Pejabat Terlibat Kasus Korupsi

Kasus Korupsi di Indonesia seakan tidak pernah ada abisnya.
, Majalah Kartini | 24/12/2016 - 14:00

irman gusman

MajalahKartini.co.id – Masih terjadinya kasus korupsi di sepanjang tahun 2016, hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih belum bebas sepenuhnya dari masalah tersebut. Berikut majalahkartini.co.id merangkum beberapa kasus korupsi dalam kaleidoskop 2016.

. Ketua DPD RI (Irman Gusman)
Irman Gusman didakwa menerima suap sebesar Rp 100 juta. Uang yang diterima mantan Ketua DPD itu diberikan oleh Direktur Direktur CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi sebagai hadiah atas alokasi pembelian gula yang diimpor Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk disalurkan ke Provinsi Sumatera Barat tahun 2016 lewat CV Semesta Berjaya. Atas perbuatannya, Irman diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan 12 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor). (Foto: Kompas)

 

bambang-irianto-wakomadiun-jp

2. Wali Kota Madiun (Bambang Irianto)

Bambang Irianto ditetapkan KPK sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dan menerima gratifikasi pada Senin 17 Oktober 2016. Penetapan tersangka ini merupakan tindak lanjut dari penyelidikan KPK tentang dugaan penyimpangan proyek Pasar Besar Kota Madiun yang menelan dana APBD senilai Rp76 miliar pada tahun 2010-2013.

Kasus ini pernah diselidiki Kejaksaan Negeri Madiun. Kemudian diambil alih Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada tahun 2012. Kasus ini lantas mandeg lantaran tidak ditemukan kerugian negara. Kini, kasus Bambang Irianto ditangani KPK. Atas perbuatannya, KPK menjerat Bambang Irianto dengan Pasal 12 huruf i atau Pasal 12B atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Foto: Radarpena.com)

sba

3. Bupati Banyuasin (Yan Anton Fersian)
Yan Anton Fersian resmi menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yan ditangkap KPK pada Minggu 4 Agustus 2016 usai menggelar pengajian dalam rangka melepas keberangkata dirinya dan istri berhaji. Selain itu, KPK juga menangkap Sutaryo selaku Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Kirman selaku swasta yang bertugas sebagai pengepul dana, serta seorang pengusaha bernama Zulfikar Muharrami.

Dari tangan Yan, KPK menyita uang Rp299.800.000 dan USD 11.200. Dari tangan Sutaryo, KPK menyita Rp50 juta. Serta dari tangan Kirman, KPK menyita bukti setoran biaya haji ke sebuah biro perjalanan haji sebesar Rp531.600.000. Sejumlah uang tersebut berasal dari Zulfikar. Yan memanfaatkan kesempatan untuk meminta uang kepada para pengusaha yang ingin mendapatkan proyek di wilayahnya. Atas perbuatannya, KPK menetapkan Yan, Rustami, Umar, Kirman, dan Sutaryo sebagai penerima suap dengan sangkaan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, junto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. (Foto: Progresif Jaya)

dodi

4. Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ( Dody Iswandi)

Dia diduga melakukan tindakan korupsi dana Asian Games 2018.
Dana yang digelapkan Dody adalah dana untuk melakukan sosialisasikan kegiatan Asian Games, rencananya akan dibuat Carnaval Road to Asian Games 2018. Acara ini akan diadakan di enam kota besar, yakni Medan, Palembang, Balikpapan, Banten dan Makassar.Dody disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 3 atau Pasal 4 atau Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). (Foto: PorosJakarta)

Dahlan Iskan

5. Dahlan Iskan
Dahlan Iskan ditetapkan tersangka kasus aset PWU berdasarkan surat perintah penyidikan bernomor Print-1198/O.5/Fd.1/10/2016 tertanggal 27 Oktober 2016. Dia diduga melakukan pelanggaran pada penjualan aset PWU di Kediri dan Tulungagung pada tahun 2003. Waktu itu, Dahlan menjabat Direktur Utama PT PWU dua periode, dari tahun 2000 sampai 2010. Sebelum Dahlan, penyidik sudah menetapkan mantan Kepala Biro Aset PWU, Wishnu Wardhana sebagai tersangka. Setelah Dahlan jadi tahanan kota, kini tinggal Wishnu Wardhana saja yang mendekam di Rutan Medaeng. (Foto: Okezone)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: