Harapan Hidup Penderita Diabetes Menurun Pasca Amputasi

Luka kronik akibat penyakit diabetes perlu melibatkan multidisiplin ilmu.
, Majalah Kartini | 27/03/2017 - 14:11

PT Kalbe

MajalahKartini.co.id – Sebuah penelitian menunjukkan prevalensi pasien dengan luka adalah 350 per 1000 populasi penduduk. Mayoritas luka pada penduduk dunia adalah luka karena pembedahan/trauma (48.00%), ulkus kaki (28.00%), luka dekubitus (21.00%).

Pada tahun 2009, MedMarket Diligenoe, melakukan penelitian tentang insiden luka di dunia berdasarkan etiologi penyakit, ditemukan ulkus diabetik 13,50 juta kasus, amputasi 0,20 juta pertahun. Dokter spesialis luka, dr. Adisaputra R. CWSP, FACCWS mengatakan, 47 persen penyintas diabetes meninggal pasca amputasi.

Pada press conference “Surviving The Shift from Volume of Wound Care Quality” yang diselenggarakan PT Kalbe di Jakarta, Sabtu (11/3), dr. Adi mengungkap beberapa faktor mengapa penderita harus diamputasi diantaranya pasien mendatangi dokter sudah sangat terlambat.

“Saat sudah terlambat kadang-kadang kerusakan atau komplikasi sistemik itu juga sangat lanjut sehingga kadang-kadang amputasi itu bukan penyelesaian yang final. Masih akan ada lagi penyulit dan komplikasi lain,” kata dr. Adi.

Seringkali, kata dia ditemukan penyandang diabetes yang kaki sebelah diamputasi, dalam beberapa tahun kemudian kaki sebelah juga diamputasi. Menurutnya hal ini bukan disebabkan lukanya menjalar, tapi lantaran kurangnya edukasi terhadap pasien. Bukan hanya itu saja, tingkat depresi pasca amputasi pun tinggi.

“Jangan lupa depresinya tuh tinggi sekali. Bayangkan kakinya diamputasi, karena kita selalu pengen kaki utuh,” ujarnya.

Umunya, penyandang diabetes datang dengan dua jenis luka. Pertama, paling sering terjadi akibat neuropati. Neuropati adalah kerusakan saraf yang disebabkan apabila gula darahnya lama tidak terkontrol. Ini berakibat terjadinya penurunan sensibilitas atau kemampuan perabaan terutama pada ujung-ujung alat gerak terutama kaki. Sehingga ketika ada luka atau mengalami trauma benturan, dia tidak merasakan sakit.

“Yang bikin mereka berasa kalau sudah ada darah berceceran dan ada bau sat itu kan sudah terlambat karena sudah terinfeksi,” katanya.

Jenis luka yang lain yaitu terjadinya gangguan aliran darah. Jika hal ini terjadi maka umumnya pasien datang dengan nyeri karena ujung-ujung jarinya tidak mendapat darah, sakit, warnanya jadi keunguan bahkan menghitam, keras, dan kering. Dalam kasus ini dibutuhkan keterlibatan disiplin ilmu lain seperti bedah vaskuler untuk memperbaiki aliran darahnya supaya luka bisa dirawat dan disembuhkan.

“Kalau sudah ada jaringan sampai mati/ ganggren itu memang harus dibuang. Kita bisa merawat luka dan menyembuhkan yang sakit, tapi tidak bisa menghidupkan yang mati,” katanya.

Bahkan, terkadang merujuknya pun sudah terlambat. Pasien sudah diintervensi sedemikian rupa bebera lama hingga terjadi infeksi yang kronik baru kemudian dirujuk. Menurut dr. Adi dibutuhkan ilmu yang mumpuni untuk merawat luka. Sejatinya, sejak awal seorang dokter sudah bisa memastikan diagnosa penyakit dan tindakan apa yang bisa dilakukan.

“Jadi luka ini ada ilmunya, sejak awal kita harus tahu tujuannya apa, tidak cuma sekedar coba-coba. Saat sudah terdiagnosa kita bisa melihat kalau itu neuropati. Salah satu caranya ita bisa melakukan tes sensibilitas,” paparnya.

Pada penderita diabetes yang punya faktor risiko, lanjut dr. Adi, kita bisa menggunakan alat tertentu dengan menyentuhkan pada titik tertentu di kaki pasien, dengan mata tertutup pasien diminta untuk menebak titik mana yang terasa sakit. Apabila pasien salah menjawab dua atau lebih maka patut dicurigai terjadi penurunan kemampuan perabaan atau sensibilitas.

Untuk mencegah terjadi luka kronik di kaki penderita diabetes dengan neuropati, dr Adi menyarankan agar pasien tidak berjalan dengan kaki terbuka atau tanpa alas kaki. Sebelum memakai alas kaki, periksa terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada benda berbahaya/tajam (paku, kerikil, beling, dll) yang bisa menyebabkan kaki luka, dan periksa kaki dua kali sehari dengan alat ters sensitivitas.

Penting untuk menjaga kelembaban kaki agar tidak pecah-pecah dan terjadi luka, dan sela jari harus kering. Penderita juga tidak dianjurkan mandi terlalu lama, karena saat mandi tubuh akan menjadi kering. Selain itu, hindari merendam kaki dengan air hangat, jika memungkinkan gunakan air yang dengan temperatur yang pas, bisa di tes dengan yangan atau jika ragu, minta orang lain untuk memastikan suhunya tidak panas.(Foto : Andim)

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: