Puput Tantriana Sari, Bupati Perempuan Jadikan Probolinggo Berpredikat Sangat Baik

Mantap berkarier sebagai bupati perempuan di Indonesia. Puput Tantriana Sari tahu betul bahwa perempuan juga punya kesempatan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki.
, Majalah Kartini | 16/05/2018 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Memimpin sebuah kabupaten bukanlah perkara mudah. Saban hari, Tantri, sapaannya, harus bersilaturahmi dengan warga masyarakat Probolinggo dan mendengarkan aspirasi mereka. Ia juga harus menyesuaikan banyak kegiatan baru sebagai bupati setelah sebelumnya menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Meski demikian, ia tetap memberikan prioritas tersendiri untuk mengurus dua buah hatinya yang berusia 9 dan 5 tahun.

Tantri tidak pernah menyangka bahwa ia akan berkecimpung di dunia pemerintahan sebagai bupati. Dahulu, ia bekerja sebagai pegawai salah satu perusahaan perbankan. Setelah menikah, ia memutuskan untuk resign karena ingin fokus mengurus keluarga. Saat ia tengah menikmati perannya sebagai seorang ibu, Tantri mengisi waktu luang dengan berorganisasi di beberapa organisasi sosial. Bertemu dan membantu masyarakat menjadi “pekerjaan” yang menyenangkan baginya saat itu. Hingga pada tahun 2011, amanat itu datang. Ia diminta oleh masyarakat untuk mencalonkan diri sebagai bupati Kabupaten Probolinggo periode 2013-2018.

“Saya kaget sekali waktu itu. Tapi pada akhirnya saya harus memutuskan, mau atau tidak. Setelah ber-istikharah dan bermusyawarah dengan keluarga, akhirnya saya menyanggupi. Alhamdulillah, seiring takdir Allah saya memenangi kontestasi. Tanggal 20 Februari 2013, saya dilantik menjadi bupati perempuan pertama Kabupaten Probolinggo,” paparnya.

Tantri mengaku, sampai saat inipun ia masih terus berproses belajar untuk membagi waktu, peran, dan tanggung jawab sebaik mungkin. “Prinsip saya adalah bagaimana semua terselesaikan dengan baik. Tidak ada rumus atau pembagian 50:50, apakah itu waktu untuk masyarakat atau untuk keluarga. Saat saya harus bertugas untuk rakyat, semaksimal mungkin saya curahkan tenaga dan pikiran. Saat saya kembali ke rumah, saya akan ‘mencopot’ semua peran saya di luar rumah untuk fokus pada anak-anak.”

TEGUH MEMEGANG AMANAH                 

Tantri meyakini bahwa semua yang didapatnya sekarang adalah berkat dukungan dan keinginan masyarakat agar dirinya menjadi pemimpin, bukan sebaliknya. Saat ia dinyatakan menang, ujian dan tantangan dimulai. Ia kerap dilanda perasaan takut, takut kalau tidak bisa memegang amanah dengan baik. Tapi, di sisi lain ia meyakini bahwa doa banyak orang juga akan meringankan dan memudahkan langkahnya mengemban amanah.

Kini, ia fokus untuk menjalankan visi misi yang sudah dicanangkannya. Visi misi tersebut diakuinya adalah harapan masyarakat Probolinggo sendiri. Dari kursinya, Tantri berusaha menggandeng segenap masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan yang berakhlak, mandiri, dan sejahtera.

Berada di pemerintahan seringkali memberikan tantangan besar perkara menjaga idealisme. Namun, Tantri sendiri meyakini hal tersebut masihlah sangat mungkin. “Prinsip saya adalah bagaimana kita sebagai manusia, selama masih diberi kesempatan hidup, bisa terus mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Hari ini amanah saya adalah menjadi istri, ibu sekaligus menghantar amanah rakyat. Saya akan perjuangkan, bagaimana minimal ketiga hal ini bisa berjalan baik dan sesuai harapan,” tegasnya.

Agar dapat memenuhi target, Tantri harus konsisten dalam memegang nilai-nilai yang digenggamnya selama ini, salah satunya nilai kebermanfaatan terhadap sesama. “Saya pikir tidak hanya politisi, tetapi seluruh amanah apapun harus didasari pada niatan untuk memberi kemanfataan dan menebar kebaikan untuk sesama. Manakala itu betul-betul menjadi pegangan dan diterjemahkan secara kaffah dalam pelaksanaan amanah itu, Insha Allah akan memberi hasil yang mendekati sempurna,” terangnya. Ia juga selalu ingat akan petuah orang tuanya, bahwa kebaikan apa pun yang ia lakukan hari ini, semisal menolong orang lain, akan kembali kepadanya ataupun anak keturunannya. “Keyakinan itu yang kemudian menguatkan sekaligus memberi saya kekuatan untuk ‘berbuat,’ untuk membantu anak keturunan saya kelak saat saya sudah tidak mampu membantu dan menjaga mereka di dunia.”

PEREMPUAN PEMIMPIN

Sebagai seorang perempuan, Tantri mengaku kerap menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang mengandalkan insting kewanitaannya. Ia tetap merangkul semua elemen, mulai dari internal, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan masyarakat. “Perempuan dianugerahi sifat empati, kemauan untuk mendengar, dan lebih luwes dibandingkan dengan laki-laki. Tidak boleh lupa juga bahwa perempuan mempunyai kecenderungan dalam berbicara dan bertindak dengan hati. Saya pikir ini menjadi modal berharga dalam memperkuat sistem dan penyelesaian masalah. Walaupun terkadang saya harus mengeluarkan sifat maskulin juga untuk beberapa permasalahan yang membutuhkan ketegasan dan kecepatan,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengaku, dunia pemerintahan tidaklah selalu soal maskulinitas ataupun femininitas. Baik pemimpin laki-laki maupun perempuan harus mengambil peran sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Hanya saja, kemampuan multitasking wanita dapat menjadi sebuah kelebihan.

Menurutnya, zaman sekarang tidaklah sulit bagi seorang perempuan untuk dapat menjadi pemimpin ataupun berkecimpung di dunia pemerintahan. “Saya pikir negara (Indonesia) hari ini sudah membuka peluang dan pintu sangat lebar untuk perempuan. Tinggal perempuan itu sendiri yang harus punya kemauan untuk keluar dari comfort zone-nya, berbuat lebih dan mengambil peran lebih menyalurkan kemampuan dan kompetensinya dilingkup yang lebih luas. Tentunya, tanpa harus meninggalkan kodrat perempuan selaku istri dan ibu bagi anak-anak.” Ketika ditanya tentang sulitkah menjadi bupati wanita, ia dengan yakin menjawab, “sulit itu hanya masalah persepsi saja. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada permasalahan yang berarti.”

KOMITMEN BERBUAH PRESTASI

Kesungguhannya dalam menjaga amanat masyarakat pun berbuah manis.  Pemkab Kabupaten Probolinggo berhasil meraih predikat nilai “BB” atau sangat baik untuk Akuntabilitas Kinerja Tahun 2017 dari pemerintah pusat, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB). Di samping penghargaan tersebut, Tantri juga beberapa kali dianugerahi penghargaan lain atas prestasinya memajukan Kabupaten Probolinggo, di antaranya adalah Satya Lencana Karya Bakti Praja Nugraha 2015 atas pencapaian bidang pemerintahan untuk kinerja sangat tinggi, Satya Lencana Wira Karya 2018 atas pencapaian di bidang kelautan, Satya Lencana Dwija Praja 2017 atas keberhasilan di bidang pendidikan, Satya Lencana Pembangunan atas keberhasilan pembangunan di bidang SDM. Dan untuk pertama kalinya, di bawah kepemimpinan Tantri, Kabupaten Probolinggo mendapatkan Anugerah Parahita Ekapraya 2016  dibidang pembangunan dan komitmen kesetaraan dan keadilan gender.

Semua pencapaian tersebut amat disyukurinya. Tentunya, Tantri juga mengapresiasi seluruh jajaran staf di bawahnya yang turut serta memajukan pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Rasa syukur bertambah lagi karena ia juga masih dapat menjalankan perannya sebagai ibu dan istri dengan baik. (*)

 

 

 

 

 

 

Tags: , , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: